Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Melanjutkan misi dari Galeri Karya Arga —sebagai dokumentasi dan apresiasi atas proses kreatif Arga— kali ini kita akan melihat perjalanan imajinasinya yang semakin berkembang. Sebelumnya boleh dilihat-lihat lagi karyanya di Gallery Part 1..

    Kalo di Gallery Part 1 semua koleksinya adalah mobil, karya-karya Arga di Part 2 ini mulai terasa berbeda. Masih banyak kendaraan—karena itu memang dunianya—tapi imajinasinya mulai melebar. Bentuknya mulai riil, ceritanya lebih jelas, dan alhamdulilah udah bisa gambar objek selain mobil.

    Arga terlihat mulai menuangkan cerita pada beberapa gambarnya. Arga juga mulai eksplorasi bentuk gambar pola dan dia terlihat sangat enjoy bermain warna. Setiap gambar bercerita tentang dunia yang hanya bisa ditembus oleh imajinasi seorang anak.

    Semoga Gallery Arga Part 2 ini bisa menginspirasi kita semua untuk melihat dunia dengan mata penuh rasa ingin tahu dan kebebasan berkreasi, sama seperti Arga.

    Gambar Kendaraan

    Mobil, truk, dan kendaraan versinya Arga. Bukan sekedar bentuk, tapi lengkap dengan detail, fungsi, dan cerita. Setiap garis punya maksudnya sendiri.

    Mobil Toyota rancangan Arga
    Tiga mobil balap, mana yang paling keren?
    Mobil sedannya rusak, harus ke bengkel dulu deh
    Truk camping, lengkap dengan berbagai peralatan camping dan api unggun
    Jeep membawa trailer tapi lagi mogok, jadi diderek sama pick up deh
    POV start line balap mobil
    Dari luar mobil, sekarang sampai ke dalamnya. Imajinasi Arga makin jauh

    Gambar Repetition dan Permainan Warna

    Kadang aku liat Arga sekedar corat-coret nggak jelas, tapi begitu udah jadi ”wow” juga. Mungkin dia lagi eksplor pola berulang, kebetulan di sekolahnya memang baru diajarin macam-macam garis. Dan selalu, pilihan warnanya nggak pernah gagal.

    Kata Arga ini ”Bukit Hati”
    Ketika imajinasi mulai menemukan warnanya sendiri 🎨 Gemasnya pake ditandatangan segala lagi 😁

    Gambar Bangunan, Hewan, dan Objek Lainnya

    Semakin ke sini dunianya Arga nggak cuma kendaraan aja. Dia mulai bisa menggambar apapun yang dilihatnya entah dari buku, film atau sesuatu yang menarik yang baru dia temui di jalan.

    Snowman on a snowy night☃️
    Kantor Polisi dan Rumah Susun
    Ruang pameran di dalam museum
    Siang itu ada pelangi, flaminggo, dan imajinasi penuh warna🌈

    LEGO Rakitan

    Seiring waktu, ide-ide Arga nggak cuma berhenti di kertas. Mobil-mobil yang dulu digambar, kini mulai dibangun sendiri dalam bentuk lego, lengkap dengan detail dan ceritanya masing-masing.

    Kata Arga ini mobil pencuri. Tanpa ada instruksi, hanya mengikuti imajinasi
    Ketika imajinasinya mulai punya sayap, Pesawat Luar Angkasa

    Melihat karya-karyanya disusun seperti ini,
    berasa sekali perkembangannya—padahal belum sampai setahun. Kemampuan Arga dalam mengekspresikan ide dan detailnya sudah terlihat begitu menakjubkan.

    Bukan soal hasil akhirnya,
    tapi tentang bagaimana imajinasinya tumbuh,
    pelan-pelan, dengan caranya sendiri ✨

  • Suasana Pounds Park di malam hari, tetap terasa aman dan nyaman untuk anak bermain

    Dari sekian banyak taman dan playground di Sheffield, Pounds Park jadi salah satu favorit Arga—dan aku juga suka banget tempat ini. Lokasinya strategis, tepat di dekat city center, bikin taman ini gampang dijangkau bahkan kalau cuma punya waktu sebentar.
    Pounds Park sering disebut sebagai salah satu playground andalan Sheffield. Nggak heran, karena taman ini memang dirancang ramah untuk anak-anak berbagai usia. Area mainnya luas, bersih, dan terasa aman. Anak-anak bisa bebas bermain, sementara orang tua bisa mengawasi dengan tenang dari bangku-bangku yang banyak tersedia di sekeliling taman.

    Area sandpit yang cukup luas untuk anak eksplorasi

    Playground-nya cukup lengkap: ada dua menara piramida besar yang dihubungkan dengan jembatan tali, jungkat-jungkit, perosotan baja, area panjat, area bermain pasir, area lantai yang merupakan lonceng musik, batu besar untuk panjat tebing, serta area bermain air yang mengalir di seluruh taman dengan pompa, semprotan, kincir air, dan bendungan. Anak nggak cuma sekedar basah main air tapi juga bisa sambil belajar. Sayangnya kalo musim dingin gini aliran airnya dimatikan, padahal main air jadi favoritnya Arga banget, ngga peduli basah ataupun kedinginan. Oh ya, yang paling penting juga tersedia toilet di taman ini.

    Main air jadi list wajibnya Arga kalo ke Pounds Park

    Yang bikin Pounds Park terasa spesial adalah suasananya. Karena lokasinya benar-benar di jantung kota—dikelilingi gedung-gedung tinggi yang modern, taman ini hidup tapi nggak berisik. Banyak keluarga datang ke sini, ada yang bawa stroller, ada juga anak-anak yang main sepulang sekolah. Rasanya hangat dan “hidup”, tapi tetap nyaman.

    Pounds Park juga pernah mendapat penghargaan “Green Public Space” . Taman ini bukan cuma sekadar tempat main, tapi ruang aman untuk anak-anak tumbuh, bersosialisasi, dan belajar berbagi ruang dengan orang lain.

    Kadang, kebahagiaan itu sesederhana sore di taman—anak bermain tanpa beban, dan orang tua merasa cukup.

  • Salah satu hal yang paling bikin aku bersyukur pindah ke Sheffield adalah julukannya yang bukan sekadar slogan: The Outdoor City.
    Sheffield itu kota yang ramah keluarga, terutama buat yang punya anak kecil seusia Arga. Ruang terbuka hijau ada di mana-mana. Playground bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, tapi justru sering muncul di tengah perumahan, seperti bonus kecil yang bikin hari anak-anak (dan orang tuanya) jadi lebih ringan. Tinggal di sini bikin main di luar bukan lagi agenda khusus, tapi bagian dari keseharian.

    Ada beberapa taman dan open space yang sering jadi tujuan untuk mampir main atau sekedar duduk istirahat sambil membuka cemilan. Senangnya semua masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki.


    Headford Garden
    Taman kecil yang tenang dan rapi. Mainan playground-nya nggak banyak. Mungkin karena itu taman ini jadi nggak ramai, tapi justru itu yang bikin nyaman. Aku dan Arga sering banget main ayunan berdua sambil ngobrol dan liatin burung-burung berterbangan.


    Gell Street Park
    Taman ini yang setiap hari kelewatan pulang pergi ke sekolah Arga. Playgroundnya luas dan permainannya pun lengkap banget. Ayunan, perosotan, trampoline, dan ruang terbuka yang cukup bikin anak-anak bisa lepas lari-larian.


    Holberry Open Space (Upper Hanover)

    Area taman memang tidak seluas Gell Street Park, tapi playgroundnya memiliki permainan yang cukup beragam. Dan di sini ada lapangan basketnya juga.


    Pounds Park
    Ini adalah taman favoritnya Arga. Lokasinya di area city centre. Salah satu taman yang terasa “hidup”. Banyak keluarga, anak-anak, dan anjing-anjing lucu yang lalu-lalang. Playground-nya juga cukup lengkap dan seru. Ada area bermain pasir dan main air juga.


    Crookes Valley Park
    Ini salah satu favoritku. Ada danau kecil dengan banyak bebek berenang. Pemandangan yang bikin lupa kalau ini masih di tengah kota. Rasanya seperti kabur sebentar dari rutinitas. Sehabis menemani Arga bermain di playground biasanya kami duduk-duduk di pinggir danau sambil makan bekal cemilan kami.


    The Ponderosa

    Area hijau yang sangat luas di tengah-tengah kota. Tempat yang pas buat piknik sederhana, main bola, atau berkejar-kejaran. Permainan playgroundnya juga beragam. Di sebelah playground ada juga area dengan peralatan gym untuk dewasa.

    Winter Garden

    Rumah kaca beriklim sedang yang merupakan salah satu rumah kaca terbesar di Inggris. Dipenuhi tanaman hijau abadi yang tetap tumbuh subur meski di musim dingin menjadikan Winter Garden seperti oase di tengah hiruk pikuk kota. Lokasinya di city centre, terkoneksi dengan Millenium Gallery. Di kala musim dingin seperti ini Winter Garden jadi tempatku dan Arga menghangatkan diri kalo lagi kedinginan jalan-jalan di luar.


    Yang aku suka dari taman-taman di Sheffield adalah kesederhanaannya. Nggak berlebihan, tapi fungsional. Aman, bersih, dan benar-benar dipakai. Anak-anak bebas main, orang tua duduk santai tanpa harus terus waswas.

    Pindah ke kota baru tentu penuh tantangan. Tapi tinggal di Sheffield mengajarkanku bahwa kualitas hidup itu sering datang dari hal-hal sederhana: udara segar, ruang terbuka, dan waktu luang untuk anak bermain tanpa layar.

    Dan melihat Arga tumbuh di lingkungan seperti ini—bisa lari, jatuh, bangun lagi, dan tertawa di ruang terbuka—rasanya aku membuat keputusan yang tepat. Sheffield mungkin bukan kota yang gemerlap. Tapi buat kami, ini kota yang memberi ruang. Untuk bernapas dan untuk bertumbuh dengan lebih bahagia.

  • Bangunan Chatsworth House dengan area garden yang sangat luas

    Liburan musim dingin kali ini kami memilih main agak jauh dari kota: ke Chatsworth House, salah satu destinasi wisata keluarga yang cukup populer. Kami berangkat dari Sheffield naik bus 218, cukup sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 50 menit. Pemandangan sepanjang jalan pun cantik banget, apalagi pas udah mendekati area Peak District.

    Interior megah dengan dekorasi Natal yang memberi kesan festive

    Begitu sampai, kami langsung menuju Chatsworth House, yang masih didekorasi dengan tema Natal. Interiornya yang megah membuat kami terpukau, elegan khas bangunan bersejarah Inggris. Ditambah dengan ornamen khas musim liburan jadi benar-benar terasa suasana festive-nya.

    Salah satu koridor di dalam Chatsworth House yang penuh dengan lukisan dan beberapa patung

    Setelah puas berkeliling di dalam rumah, kami lanjut ke farm yard. Arga happy banget bisa lihat banyak hewan, mulai dari guinea pig, kuda, keledai, ayam, domba, sapi, bahkan babi yang berukuran sangat besar. Di sana Arga juga sempat cobain naik traktor.

    Arga full happy — main sama guinea pig, naik traktor beneran, naik traktor mainan, lihat domba yang ngegemesin

    Selanjutnya kami ke Adventure Playground. Ini bagian yang paling Arga tunggu-tunggu. Playgroundnya luas banget, suasananya juga sejuk karena berada di dekat hutan. Walaupun dekat hutan tapi ngga menakutkan kok karena ramah keluarga banget. Waktu itu tergolong masih pagi dan masih sepi jadi Arga bisa bebas bermain sepuasnya. Ada area bermain pasir lengkap dengan peralatan mainnya, bisa main air juga (sayangnya waktu itu lagi membeku), area bermain toddler dan area bermain untuk anak dengan usia lebih besar —lebih seru dan penuh tantangan.

    Area playground yang bikin betah karena pemandangannya indah banget

    Setelah puas bermain kami kembali ke area Chatsworth House untuk mencari tempat makan siang. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah jadi hujan salju. Kami pun menikmati salju pertama kami dulu sebelum akhirnya makan siang. Kami mencoba vegan roll dan pumpkin soup yang terasa nikmat banget disantap hangat-hangat di cuaca dingin. Arga juga jajan marshmallow panggang dan aku jajan hot chocolate, perfect banget dinikmati setelah bermain salju.

    Area garden dan pond yang memutih karena tertutup salju

    Bagian paling magis dari hari itu adalah saat kami menyusuri Chatsworth Garden yang sudah memutih karena salju yang baru saja turun. Kami sempat lihat fountain, main di area maze, dan lanjut jalan santai melewati waterfall kecil yang tersembunyi. Rasanya damai banget, seperti masuk ke dunia dongeng.

    Meski belum sempat explore semua sudut Chatsworth (karena ternyata luas banget!), hari itu jadi salah satu hari libur musim dingin yang berkesan. Next time, pengen balik lagi pas musim semi atau summer untuk lihat suasana berbeda — kebun penuh bunga warna-warni dan langit cerah pastinya bakal bikin vibes-nya lain lagi.

    Area garden yang belum sempat tereksplor di liburan kemaren, maybe next time

    Info Tiket & Tips
    Untuk masuk ke Chatsworth, kita perlu booking tiket secara online terlebih dahulu, terutama kalau mau masuk ke area house karena jam kunjungan juga harus dipilih saat pemesanan. Pastikan datang sesuai waktu yang tertera di tiket. Harga tiket bergantung pada paket yang dipilih apakah house saja, house dan garden, atau farmyard dan adventure playground.

    Kalau berencana ke Chatsworth bareng anak-anak, bawa bekal bisa jadi pilihan bijak. Di sekitar area farm yard dan adventure playground ada banyak spot meja dan kursi untuk piknik. Jadi sambil nunggu anak main, orangtua bisa santai ngemil atau ngopi. Meskipun ada beberapa pilihan food stall dan café, tapi bawa bekal sendiri tetap menyenangkan — lebih hemat dan praktis!

  • Satu hal yang mungkin tak terpikir sebelumnya saat pindah ke negara baru adalah… betapa susahnya cari toilet umum! Aku pikir, tinggal di negara maju seperti UK akan memudahkan akses ke fasilitas umum, termasuk toilet. Tapi ternyata, realitanya tak seindah bayanganku.

    Pengalaman buruk pertamaku terjadi saat hari pertama sampai di Sheffield. Waktu itu kami belum bisa masuk flat karena masih menunggu serah terima kunci. Di tengah udara dingin dan kelelahan setelah perjalanan panjang, Arga tiba-tiba kebelet pipis, BANGET. Karena nggak ada tempat yang bisa dimasuki, kami memutuskan lari ke arah The Moor—pusat perbelanjaan yang jaraknya cuma sekitar 10 menit jalan kaki.

    Di sana aku lihat ada penunjuk arah bertuliskan “Public Toilet”. Lega dong, akhirnya bisa juga. Tapi pas kami sampai, ternyata toiletnya sudah tidak terpakai. Pintu terkunci, berdebu, gelap, bahkan banyak sarang laba-labanya. Niat pipis malah berubah jadi ngeri! Karena panik, kami coba masuk ke gedung terdekat, gedung besar yang aku kira city council. Tapi stafnya bilang tidak ada toilet dan malah menyuruh kami ke Moor Market. Kami pun lari lagi ke sana, dan ternyata toiletnya ada di bagian paling belakang… dan sedang maintenance. Benar-benar ujian!

    Sampai akhirnya kami nanya ke petugas kebersihan jalan, dan dia bilang: “There’s no public toilet around here.” Hah?? Untung akhirnya ada orang baik yang mengarahkan kami ke Atkinsons Department Store. Dan… finally, berhasil juga ketemu toilet yang bersih dan bisa dipakai! Lega banget, dan syukurnya Arga nggak keburu ngompol.

    Kalau di Indonesia, kita bisa dengan sangat mudah menemukan toilet umum di berbagai tempat—Indomaret, Alfamart, SPBU—bahkan di tempat makan sederhana pun biasanya ada toilet yang bisa diakses. Tapi di UK, fasilitas ini lebih terbatas dan kadang juga tidak jelas arahnya. Bahkan supermarket besar seperti Aldi dan Lidl pun nggak menyediakan toilet untuk umum. Ini tentu jadi tantangan tersendiri, apalagi kalau bepergian dengan anak kecil. Meskipun sudah ke toilet dulu sebelum keluar rumah, kadang udara dingin bikin jadi cepat kebelet lagi.

    Setelah tinggal di sini beberapa bulan, aku mulai hafal beberapa tempat lain yang bisa diandalkan kalau butuh toilet umum, misalnya:
    – Moor Market
    – Popeyes Moor
    – Ponds Park
    – KFC & McDonald’s
    – Subway (beberapa outlet)
    – Tesco Superstore


    Jadi, buat yang baru pindah atau sedang traveling dengan anak kecil, penting banget tahu spot-spot ini. Atau minimal, siapkan rencana darurat. Karena ternyata, cari toilet di UK bisa jadi petualangan tersendiri!

  • Dalam rangka mengisi liburan sekolah yang lalu, kami mengajak Arga untuk eksplor ke luar kota. Kami memilih York sebagai destinasi liburan pertama kami—dekat dan bisa day trip dari Sheffield.

    Kami berangkat naik kereta pukul 08.22 dan tiba di York sekitar satu jam kemudian. Kota kecil yang cantik ini langsung menyambut dengan suasana tenang dan udara pagi yang terasa agak menggigit.

    Reruntuhan St. Mary’s Abbey di York Museum Garden

    Destinasi pertama: Memorial Gardens, taman hijau tak jauh dari stasiun, jadi spot yang pas buat pemanasan. Lanjut jalan kaki ke Museum Gardens, menikmati reruntuhan St. Mary’s Abbey dan suasana klasik khas York. Kami juga sempat berjalan menyusuri pinggiran Ouse River dan selanjutnya mampir sebentar ke York Library. Sebenarnya ini nggak ada dalam itinerary kami, tapi Arga minta ke library, ya sudahlah kami turuti sekalian numpang istirahat sebentar. Ternyata dia betah mewarnai beberapa colouring worksheet yang disediakan dan susah diajak udahan.

    York Minster, bangunan katedral yang berarsitektur Gotik megah di mana setiap detailnya adalah hasil ukiran tangan manusia

    Tak jauh dari situ, kami tiba di York Minster—ikon kota York yang megah dan bikin kagum. Kalo Arga justru excited karena melihat ada patung Paddington Bear di area tamannya. Setelah puas foto-foto, kami lanjut ke York’s Chocolate Story. Sebenarnya ada tour untuk melihat pembuatan cokelat bahkan mencoba membuatnya sendiri, tapi ternyata sudah full dan baru ada slot sore hari. Sebaiknya memang booking dari hari sebelumnya. Akhirnya aku cuma beli hot chocolate-nya, dan serius, seenak itu! Aku juga beli beberapa cokelat dan ternyata enak-enak semua, jadi nyesel cuma beli sedikit.

    Pecinta cokelat wajib ke York’s Chocolate Story. Barisan coklat ini terlihat begitu menggoda, jadi bingung pilih yang mana

    Dari sana tinggal jalan kaki sebentar sampailah ke The Shambles, area jalanan kuno yang jadi inspirasi Diagon Alley-nya Harry Potter. Kami makan siang Nana Noodles di Shambles Market Food Court dengan menu Padthai dan Chicken Satay—simple dan cocok buat isi energi.

    Lorong jalan The Shambles yang padat pengunjung. Fans Harry Potter harus ke sini, ada The Shop That Must Not Be Named yang merupakan official store merchandise Harry Potter

    Setelah kenyang, kami naik City Sightseeing Bus, muterin kota sambil dengerin cerita sejarah York. Arga memilih duduk di atas dengan atap terbuka, rasanya? Super dingin. Tapi dia malah tertidur pulas, mungkin kecapean juga.

    Bus City Sightseeing York yang membawa kami berkeliling menikmati pemandangan dan cerita sejarah kota York

    Destinasi terakhir kami adalah National Railway Museum. Ini adalah museum kereta api terbesar di dunia, dibagi menjadi dua area: Great Hall dan Station Hall. Karena waktu terbatas, kami hanya sempat eksplor Great Hall aja. Di Great Hall terdapat berbagai macam koleksi lokomotif dari yang paling tua usianya sampai shinkansen juga ada lho. Ada juga ruang bermain anak, library kecil, cafe dan toko souvenir. Walapun bukan fans kereta api tapi Arga cukup menikmati kunjungan ke museum ini. Oh ya, yang paling penting tiket masuk ke museum ini GRATIS!!!

    Area Great Hall di National Railway Museum yang memamerkan beraneka macam lokomotif kereta

    Kami kembali ke Sheffield dengan kereta jam 6 sore. Liburan singkat yang cukup berkesan buat kami walaupun masih banyak tempat di York yang belum sempat kami kunjungi, maklum travelling bawa anak kecil jadi nggak bisa ambisius ke sana ke mari. Boleh jadi alasan buat balik lagi kan?

  • Ada yang bilang, hal-hal paling berkesan datang dari kejutan tak terduga. Rasanya pas banget untuk menggambarkan pengalaman pertamaku dan Arga bermain salju di Chatsworth.

    Arga dan Ayah berjalan di bawah derasnya hujan salju

    Kami memang sudah agak lama merencanakan day trip ke sana, tapi akhirnya baru terealisasi hari Minggu kemarin. Tentu tanpa ekspektasi akan melihat salju turun. Menurut ramalan cuaca, kemungkinan snow fall baru akan datang sore hari. Tapi ternyata, alam punya rencana sendiri. Di tengah hari saat kami berjalan santai untuk mencari tempat makan siang, tiba-tiba butiran salju turun perlahan, lalu makin lama makin deras. Kami langsung saling pandang—excited, kaget, dan tentu saja… bahagia!

    Suasana di area Chatsworth Garden saat snow fall

    Meski tak berlangsung lama, tapi karena cukup deras jadi cukup membuat semua permukaan tertutup warna putih. Jalanan, rerumputan, daun, bebatuan, bahkan air kolam. Suasana yang sebelumnya cerah jadi terasa begitu magis.

    Tanpa pikir panjang, Arga langsung asyik mengumpulkan salju di atas bangku taman. Tangannya sibuk membuat bola salju dan kami pun saling timpuk sambil tertawa. Walau saljunya belum cukup tebal untuk bikin snowman, tapi rasanya cukup untuk mengisi hati kami dengan kebahagiaan.

    Arga seru banget ngumpulin salju di bangku taman buat bikin bola salju

    Buat Arga, ini pengalaman pertama yang sudah lama dia tunggu-tunggu. Kalo sebelumnya cuma main salju buatan di wahana bermain di Indonesia, sekarang akhirnya bisa pegang salju beneran. Dan buatku, ini momen kecil yang rasanya besar—menikmati kesederhanaan salju pertama yang turun, dan menyadari bahwa kebahagiaan itu sering kali datang dari hal-hal yang nggak kita rencanakan.

    Musim dingin sering kali identik dengan dingin dan kelabu. Tapi hari itu, aku justru merasa hangat. Mungkin karena kebersamaan, atau mungkin karena keajaiban kecil yang datang tanpa diminta. Dan aku bersyukur pengalaman salju pertama kami berada di tempat seindah Chatsworth.

    Area garden di Chatsworth yang tertutup putihnya salju justru menimbulkan kesan magis
  • Setelah Arga mulai sekolah, rasanya hidupku juga mulai dari nol lagi. Yang biasanya ke mana-mana selalu bareng Arga, sekarang aku punya cukup banyak waktu sendiri. Ternyata menyenangkan juga bisa belanja tanpa ada suara rengekan minta pulang karena capek. Dan dari situ aku mulai kepikiran, “Apa ya yang bisa aku lakukan buat mengisi waktu luang ini?”

    Pas banget aku nemu info soal creative workshop berjudul The Stories We Carry. Workshopnya cuma tiga kali pertemuan, lokasinya deket rumah, waktunya cocok, dan—yang paling penting—GRATIS. Langsung deh aku daftar.

    Awalnya sempat deg-degan juga. Aku si introvert, harus masuk ke lingkungan baru, ketemu orang-orang yang belum pernah aku kenal, dan harus ngobrol dalam bahasa Inggris yang… ya, seadanya lah ya. Tapi ternyata, aku enjoy banget!

    Karyaku di hari pertama workshop yang kujadikan ajang memperkenalkan salah satu budaya Indonesia yang jadi favoritnya Arga — Ondel-ondel

    Yang bikin kaget, peserta lain sebagian besar lansia. Iya, aku “sekelas” sama kakek-nenek dari berbagai latar belakang: ada yang dari UK, India, Namibia, Middle East, Nigeria… dan aku sendiri dari Indonesia. Awalnya sempat mikir, “Salah daftar nih?” Tapi ternyata justru ini yang bikin pengalamannya jadi spesial.

    Di pertemuan pertama, kami diminta memperkenalkan diri lewat sebuah benda yang punya cerita. Aku bawa mainan ondel-ondel kecilnya Arga. Reaksinya lucu, banyak yang penasaran dan nanya-nanya itu apa. Lumayan, jadi ajang promosi budaya Indonesia.

    Pertemuan kedua temanya “A Thank You to Myself”. Di akhir sesi, kami disuruh memilih satu kalimat paling penting dari tulisan kami, dan membacakannya. Aku pilih: 
    Thank you for never comparing your life with others, because your life is yours, your life is you.” 
    Kalimat itu juga aku tulis di karya painting yang kubuat hari itu.

    Pertemuan terakhir temanya lebih dalam: WISDOM. Kami menulis “recipe of life”—resep untuk menikmati hidup. Versiku? 
    1. Prepare yourself to be flexible. 
    2. Add more self-confidence. 
    3. Combine those two and shape the best version of yourself. 
    4. Don’t forget to always feel grateful. 
    5. Now you can simply enjoy your life.

    Karyaku di hari kedua workshop yang kebetulan cocok dikombinasikan dengan tulisanku saat sesi writing

    Sesi terakhir juga ditutup dengan painting bareng. Kami diberi satu kertas dengan pola garis—dan saat semua karya disatukan, ternyata garis-garis itu nyambung seperti puzzle. Wah, seru banget. Rasanya damai, menyenangkan, dan relaxing. Ternyata meluangkan waktu untuk hal kreatif seperti ini bisa bikin hati hangat dan kepala lebih ringan.

    Karya kami saat hari terakhir workshop yang penuh warna dan jadi reminder karena bertuliskan wisdom quotes

    Tiga kali pertemuan yang singkat itu nyatanya meninggalkan kesan yang dalam. Rasanya menyenangkan bisa berbagi cerita, mengenal sudut pandang orang lain, dan menyadari bahwa meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, kita semua membawa kisah yang saling menguatkan. Dari workshop ini aku belajar bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk tumbuh, menyembuhkan, dan mengukir makna dari perjalanan hidupnya. Dan mungkin, menulis dan berkarya bisa jadi salah satu cara untuk merawat diri—cara yang sederhana, tapi penuh makna.

  • Sebagai orangtua, kita sering banget terjebak dalam perbandingan. Apalagi sekarang, milestone anak bisa muncul di mana-mana—dari obrolan grup WhatsApp sampai postingan Instagram. Rasanya jadi insecure sendiri, apalagi kalau anak kita belum mencapai hal yang “seharusnya” udah bisa. Sering banget jadi ketrigger karena lihat postingan orang lain yang anaknya seumuran apalagi di bawah Arga dan udah bisa hal-hal yang Arga belum bisa.

    Tapi makin ke sini, aku belajar satu hal: semua anak punya waktunya masing-masing. Dan itu nggak apa-apa.

    Dulu Arga sempat agak telat ngomong. Nggak sampai speech delay sih, cuma belum sesuai milestone usianya aja. Tapi begitu mulai ngomong, langsung lancar dan jadi cerewet banget. Kata-kata yang dia tau juga banyak banget. Ternyata dia cuma butuh waktu.

    Toilet training? Hmm jatuh bangun. Aku baru mulai saat Arga umur tiga tahunan, dan ternyata prosesnya ngga bisa instan. Tapi pelan-pelan, tanpa aku sadari, tiba-tiba dia udah berhenti ngompol.

    Makan sendiri juga begitu. Sampai sekarang masih suka disuapin, sementara anak-anak lain udah bisa makan sendiri dari usia dua tahun. Awalnya aku sempat khawatir gimana kalo dia di sekolah, tapi ternyata dia bisa. Bahkan karena juara makannya jadi dapat reward sticker dari gurunya.

    Dari semua itu, aku belajar: semua ini adalah proses dan semua ini cuma soal waktu. Bukan kita yang menentukan kapan anak harus bisa ini-itu, tapi mereka tau kapan mereka siap. Tugas kita bukan untuk memaksa dan memburu-buru anak, tapi membersamai, mendampingi, dan percaya bahwa mereka akan sampai juga pada waktunya.

    Anak bukanlah proyek cepat-cepatan lulus milestone. Mereka adalah manusia kecil dengan ritmenya sendiri, dan itu fine-fine aja.

    Jadi buat orangtua yang mungkin sedang merasa tertinggal: tarik napas sebentar yuk. Kamu dan anakmu sedang berjalan di jalur kalian sendiri. Dan itu cukup. Pastikan mereka merasa aman dan didukung, sampai akhirnya mereka bisa bilang, “Aku siap.”

  • My not so baby anymore, tiba-tiba udah jadi anak Primary School

    Tanggal 11 November 2025 jadi hari bersejarah dalam petualangan keluarga kecil kami, terutama buat Arga. It was his first day of school. His very first ever school experience. Yaa, sebelum pindah ke sini, Arga memang belum pernah sekolah formal. Di Indonesia, aku dan suami memutuskan untuk belum memasukkannya ke sekolah — keputusan yang sempat mengundang banyak pertanyaan karena teman-teman sepantaran Arga udah pada sekolah pre-school ataupun TK.

    Kami memang berencana Arga akan mulai sekolah di usia 5 tahun, yaitu masuk di tahun ajaran Juli 2025. Tapi karena awal tahun kemarin tiba-tiba muncul rencana baru kepindahan kami ke luar negeri, yang pada waktu itu masih belum tau ke mana, tapi menurut hitungan kami akan berangkat paling lambat bulan September. Jadi dengan pertimbangan itu, rencana menyekolahkan Arga ditunda dulu, karena rasanya akan terlalu melelahkan untuk anak seusianya harus berpindah sekolah dan memulai adaptasi lagi hanya dalam waktu yang singkat.

    Kembali ke hari pertamanya sekolah, happy, excited, penasaran, nervous, takut, deg-degan, campur aduk rasanya. Nggak cuma Arga yang ngerasain, tapi aku juga. Aku dan Arga yang biasa bersama 24/7 sekarang harus terpisah beberapa jam. Jam sekolah di sini dimulai pukul 08.40 dan berakhir pukul 15.15, dengan 2x break time. Pasti terasa cukup berat buat Arga memulai rutinitas yang baru.

    Untuk hari pertamanya Arga request mau diantar dan dijemput lengkap oleh mama dan ayahnya. Jarak sekolah Arga agak jauh dari rumah — 20 menit berjalan kaki dan jalannya agak menanjak. Sepanjang jalan Arga mengeluh takut sekolah, tapi kami terus kasih pengertian dan semangatin Arga. Sampai di sekolah, orang tua cuma boleh mengantar aja, ngga boleh menunggu di sekolah meskipun itu hari pertama anaknya sekolah.

    Arga satu-satunya anak Indonesia yang bersekolah di sana. Mikirin gimana Arga ngejalanin harinya di sekolah bikin aku mules. Gimana nggak? Ngebayangin dia ada di situasi yang bukan cuma baru, tapi benar-benar asing. Pasti dia belum ngerti orang ngomong apa, dan orang juga nggak ngerti kalo Arga ngomong. Aku pasrah kalo emang hari itu Arga nangis terus di sekolah.

    Hari itu aku bawain Arga bekal onigiri nasi abon dan telur puyuh, buat jaga-jaga kalo dia ngga mau makan menu dari sekolah. Maklum, Arga agak picky eater dengan lidah Indonesia banget yang biasa makan nasi. Sementara menu dari sekolah kalo ngga sandwich, pizza, pasta, roasted potato — bukan selera Arga banget.

    Menu MBG di sekolah Arga, enak-enak banget kan? Ini sih mamanya yang doyan banget

    Tiba saatnya jemput sekolah, aku udah siap kalo gurunya bilang ”he is crying all day”. Tapi ternyata pas keluar kelas, dia terlihat baik-baik saja, mukanya juga happy-happy aja. Malah jadi aku yang pengen menitikkan air mata — terharu ternyata Arga udah gede dan bisa mandiri.

    Hari pertama yang mulus, belum tentu hari-hari berikutnya berjalan tanpa drama. Ada kalanya setiap hari dia nangis dari malam mau tidur sampai saat berangkat ke sekolah, sampai aku nggak tega ninggalin dia di sekolah. Tapi ada kalanya juga sepulang sekolah dia semangat cerita keseruan di sekolah tadi. Dan ada juga momen gurunya bilang ”He was doing great today’‘.

    Entah sampai kapan akan ada drama tangisan dan pelukan erat di pagi hari. Yang jelas aku bersyukur Arga sudah memulai perjalanannya. Proses ini mungkin ngga mudah buat Arga, tapi aku selalu berusaha untuk memvalidasi setiap bentuk perasaannya, apapun itu. Dan aku akan terus ada di sampingnya sebagai tempat pulang yang selalu siap mendengar semua ceritanya sepulang sekolah.