Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Summer mungkin musim yang ditunggu-tunggu banyak orang. Hadirnya matahari lebih sering, bebas pergi tanpa baju berlapis, dan siang hari lebih panjang yang membuat orang tak tergesa menjalani hari. Summer juga mungkin lebih cocok untuk para perantau asal Indonesia dan sekitarnya. Tapi kalo aku tanya Arga apa musim favoritnya di antara 4 musim yang sudah kami jalani, dia menjawab WINTER!

    Aku pribadi suka semua musim, KECUALI SUMMER! Wkwkwk. Yaa, karena buat orang yang gampang pusing tiap habis kena terik matahari, summer itu sedikit menyiksa. Apalagi kalo harus menghadapi heatwave yang panasnya sangat menyengat dan udara rasanya engap. Jujur, aku sih lebih mending kedinginan daripada kepanasan. Kepanasan bikin aku cranky. Kalo di Jakarta lagi panas bisa naik TransJakarta sekalian ngadem. Kalo di sini naik bus atau tram yang ada malah berasa masuk oven.

    Tapi tentu masih ada yang bisa disyukuri dari musim panas ini: cucian yang lebih cepat kering tanpa perlu menyalakan jemuran electric heat, bisa punya alasan untuk sering-sering jajan es krim, dan cuci piring yang jadi kegiatan favorit karena bisa sambil main air. Biasanya males banget urusan cuci piring karena kedinginan tiap kena air.

    21 Juni 2026 jadi hari dengan siang terpanjang di UK. Di Sheffield sunrise-nya jam 4.36 dan sunset pada jam 21.38. Dan tentu saja ini berdampak pada jam shalat kami. Subuh di jam 02.29, Dzuhur di jam 13.09, Ashar jam 17.36, Maghrib jam 21.41, dan Isya jam 23.11. Arga yang biasanya bisa ikut shalat Maghrib/Isya berjamaah, jadi absen dulu selama summer karena sudah lewat dari jam tidurnya.

    Langit Sheffield bulan Juni di jam 21.10

    Nah menariknya saat banyak orang tua lain mengeluhkan drama menyuruh anak tidur karena jawabnya selalu “kan belum malam,” Arga justru sebaliknya. Jam tidur Arga tidak terpengaruh meskipun siang hari yang lebih panjang. Mungkin karena sudah terbiasa konsisten dengan rutinitas yang kami jalanin dari dia kecil. Sekitar jam 19.00, selesai makan malam dan bersih-bersih diri, kami sudah langsung masuk kamar. Rata-rata Arga tidur jam 19.30. Jam 20.00 saja sudah telat katanya, ngga peduli langit masih terang benderang dan ramai suara anak-anak yang masih bermain di luar. Sementara aku berusaha sekuat tenaga menahan ngantuk sampai waktu Maghrib tiba. Syukurlah ada fatwa ulama yang membolehkan Isya dijamak di waktu Maghrib selama summer

    Tapi yang namanya UK, summer aja masih banyak hujannya. Jadi ngga selalu panas dan terik sepanjang musim. Bisa seminggu tiada hari tanpa hujan, lalu seminggu kemudian heatwave, lalu berikutnya hujan kembali. Benar-benar daya tahan tubuh harus kuat untuk menghadapi anehnya cuaca UK.

    Menjalani summer pertama di UK membuatku sadar bahwa beradaptasi bukan hanya soal bahasa, budaya, atau makanan. Bahkan hal sesederhana panjangnya siang hari dan waktu shalat pun membutuhkan penyesuaian. Ada rutinitas yang berubah, ada kebiasaan yang harus diatur ulang, dan ada rasa kagum setiap kali menyadari bahwa kami sedang menjalani sesuatu yang dulu hanya dibaca dari cerita orang lain.

    Meski masih sering mengeluh saat heatwave datang, aku tahu suatu hari nanti masa-masa ini akan menjadi bagian dari kenangan yang dirindukan. Tentang Arga yang tetap tidur nyenyak saat matahari belum benar-benar tenggelam, tentang menunggu waktu maghrib sambil menahan kantuk, dan tentang belajar menikmati setiap musim dengan segala keunikannya. Karena pada akhirnya, setiap musim di perantauan selalu membawa cerita yang layak disimpan.

  • Memasuki musim panas memang menjadi waktu yang pas untuk mengajak anak berpetualang. Waktu siang yang lebih panjang membuat perjalanan terasa lebih santai dan tidak terburu-buru. Ditambah lagi cuaca yang cenderung cerah, sehingga lebih banyak aktivitas luar ruang yang bisa dinikmati bersama keluarga.


    Sabtu lalu, aku mengajak Arga ke Eastfield Farm di Doncaster untuk mencoba pengalaman petik stroberi langsung dari kebunnya. Sejak diberi tahu rencana itu, Arga sudah terlihat sangat antusias. Ia terus bertanya seperti apa pohon stroberi dan bagaimana cara memetik buahnya.


    Dari Sheffield, kami naik kereta menuju Doncaster. Perjalanan hanya melewati dua stasiun dan memakan waktu sekitar 20 menit. Dari Stasiun Doncaster, kami berjalan ke Doncaster Interchange untuk melanjutkan perjalanan dengan bus nomor 22. Setelah kurang lebih 20 menit di perjalanan, sampailah kami di pintu masuk Eastfield Farm.


    Hari itu suasananya cukup ramai. Mungkin karena musim petik stroberi baru saja dimulai. Arga langsung mengambil ember yang disediakan dan bergegas menuju area perkebunan. Menariknya, masuk ke Eastfield Farm tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya perlu membayar stroberi yang berhasil dipetik dengan harga £4,9 per kilogram.
    Perjalanan menuju area kebun stroberi ternyata cukup jauh dari pintu masuk. Kami harus melewati ladang gandum dengan jalur yang tidak terlalu lebar sambil berpapasan dengan banyak pengunjung yang sudah selesai memetik. Melihat ember-ember mereka yang penuh berisi stroberi, Arga jadi semakin tidak sabar. Katanya takut kehabisan 😆

    Dan ternyata kekhawatirannya ada benarnya juga. Area yang paling dekat dengan pintu masuk sudah hampir tidak menyisakan buah matang. Kami pun berjalan lebih jauh ke bagian tengah kebun yang masih dipenuhi stroberi merah segar.

    Arga dan ayahnya semangat mencari stroberi yang paling besar dan merah

    Begitu menemukan lokasi yang tepat, Arga langsung berlarian ke sana kemari mencari stroberi yang paling merah dan paling besar. Kami bahkan sempat berlomba menemukan stroberi dengan ukuran terbesar. Saking serunya kami sampai tidak terasa sedang berjalan di bawah terik matahari. Tahu-tahu ember kami sudah penuh, sementara Arga masih ingin memetik beberapa buah lagi yang menurutnya “terlalu sayang kalau ditinggal”.

    Setelah puas berkeliling, kami kembali dengan seember stroberi yang cukup berat untuk dibawa. Rasanya manis sekali, bahkan beberapa yang warnanya belum sepenuhnya merah pun tetap terasa manis dan segar. Saat ditimbang, hasil panen kami mencapai 2,5 kilogram dan total yang harus dibayar sekitar £12,2. Melihat jumlahnya sebanyak itu, aku langsung berpikir bagaimana cara menghabiskannya sebelum keburu matang semua.

    Arga dengan hasil panennya yang sudah penuh tapi masih ditambah terus

    Sebelum pulang, kami sempat mampir ke kafe yang ada di area farm. Kami memesan cake, minuman dingin, dan tentu saja es krim. Sementara aku menikmati makanan dan beristirahat sejenak, Arga kembali bermain di hamparan rumput yang luas. Mulai dari berlari, bermain lempar tangkap, petak umpet, hingga menerbangkan pesawat kertas. Energi anak-anak memang seolah tidak ada habisnya, bahkan di tengah cuaca panas sekalipun.

    Menjelang sore, kami bersiap kembali ke Sheffield. Perjalanan pulang diawali dengan menunggu bus nomor 22 menuju Doncaster Interchange, lalu dilanjutkan dengan kereta menuju Sheffield.

    Perjalanan hari itu sebenarnya sederhana. Tidak ada wahana besar, tidak ada pertunjukan khusus, bahkan tujuan utamanya hanya memetik stroberi. Namun justru dari kegiatan sesederhana itulah tercipta banyak momen yang berkesan.

    Melihat Arga bersemangat mencari stroberi terbesar, berjalan menyusuri kebun, lalu bermain bebas di rerumputan luas mengingatkanku bahwa kebahagiaan anak sering kali hadir dari pengalaman-pengalaman sederhana yang memberi mereka ruang untuk bereksplorasi. Dan mungkin, itulah salah satu hal yang membuat musim panas terasa begitu istimewa: lebih banyak waktu untuk keluar rumah, menikmati alam, dan menciptakan kenangan bersama.

    Kalau sedang mencari ide aktivitas keluarga saat summer di Yorkshire dan sekitarnya, petik stroberi bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dicoba.

  • Siapa yang baru tau kalo 11 Juni diperingati sebagai Hari Bermain Internasional? Jujur aja, aku ☝️Yaa aku sendiri juga baru tau ada yang namanya Hari Bermain Internasional. Kenapa sih bermain pakai dibikin hari peringatannya segala? Bukannya bermain itu setiap hari dilakukan? Nah, menarik nih..

    Jadi International Day of Play ini baru ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada Maret 2024. Hal ini dimaksudkan untuk memperjuangkan dan melindungi hak anak untuk bermain. Adanya hari ini adalah untuk meningkatkan kesadaran kita tentang betapa pentingnya bermain bagi perkembangan dan kesejahteraan setiap anak. Peringatan ini adalah momentum yang tepat untuk mengajak orangtua, masyarakat, sekolah, serta pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta mendukung anak-anak belajar dan berkembang melalui kegiatan bermain.

    Nah tema Hari Bermain Internasional tahun ini adalah “Protect play, protect childhood”. Tema ini menjadi pengingat bahwa masa kanak-kanak yang bahagia dan sehat didasarkan atas kesempatan anak untuk bermain.

    Sayangnya di Indonesia sendiri kadang kesempatan anak untuk bermain masih terbatas. Di kota besar, ruang terbuka untuk anak bebas bermain masih sangat terbatas. Ada playground di mall-mall yang mungkin tidak semua lapisan masyarakat bisa menikmati karena harganya yang tidak terjangkau. Sementara itu, di daerah yang lebih terpencil mungkin masih tersedia ruang terbuka yang luas untuk bermain. Namun, fasilitas pendukung dan area bermain yang aman belum tentu tersedia.

    Arga sedang bermain di salah satu playground di Sheffield. Hampir setiap minggu kami mengunjungi taman atau area bermain seperti ini karena lokasinya mudah dijangkau dan gratis.

    Bersyukurnya kami sekarang tinggal di Sheffield, kota yang sangat ramah keluarga. Hampir di setiap area pemukiman terdapat taman, lapangan, atau playground yang bisa diakses gratis. Bahkan fasilitas bermain untuk anak-anak dengan disabilitas juga banyak tersedia sehingga lebih banyak anak bisa menikmati hak mereka untuk bermain. Kendalanya cuma di cuaca aja sih, yang lebih sering hujan daripada cerah jadi bikin males main di playground.

    Arga bermain di Norfolk Park Playground, salah satu playground yang cukup besar di Sheffield

    Tak usah bergerak jauh ke sekolah maupun pemerintah, coba yuk kita mulai dari rumah. Sebagai orangtua dari anak-anak kita, sudahkan kita memenuhi hak mereka untuk bermain? Sudahkah kita memfasilitasi mereka untuk bermain? Sudahkah kita memberikan kesempatan dan waktu untuk mereka bermain? Jangan-jangan kita terlalu fokus pada nilai, prestasi, dan berbagai keterampilan yang harus dikuasai anak. Sampai lupa bahwa pada dasarnya mereka masih anak-anak. Dan salah satu hak terpenting mereka adalah bermain.

    Coba yuk kita flashback sebentar, dulu waktu kita kecil seusia anak kita sekarang, apa sih yang sering kita mainin? Mungkin permainan sederhana seperti kelereng, congklak, layangan, galasin. Sementara anak kita sekarang lebih sering mainnya PS, roblox, minecraft atau malah cuma nonton Youtube. Nah, kenapa ngga sesekali kita ajak anak-anak memainkan permainan yang dulu kita sukai? Sederhana, tapi aku yakin akan berkesan buat mereka, setidaknya memperkuat bonding antara orangtua dan anak.

    Zaman emang semakin maju dan berkembang, tapi hak anak untuk bermain tetap harus diwujudkan.

    Yuk ajak anak main…

  • Di era sekarang di mana gadget semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, mengajak mereka bermain sejenak di alam bisa menjadi cara sederhana untuk memberikan pengalaman yang berbeda. Bermain di alam bukan hanya membuat anak sekedar lebih aktif bergerak, tetapi juga mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan observasi, kreativitas, hingga kepercayaan diri mereka.

    Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di alam dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung perkembangan fisik maupun emosional anak. Alam juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar langsung dari lingkungan sekitarnya tanpa harus merasa sedang “belajar”.

    Salah satu hal yang aku syukuri sejak tinggal di Sheffield adalah banyaknya ruang hijau dan destinasi alam yang ramah keluarga. Nggak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membuat anak senang. Justru beberapa momen paling berkesan bersama Arga terjadi saat kami sekedar berjalan-jalan dan bermain di alam.

    Endcliffe Park

    Salah satu tempat favorit yang tak jauh dari rumah kami adalah Endcliffe Park. Di sana terdapat sungai kecil yang langsung menarik perhatian Arga. Begitu mendengar suara gemericik air, dia langsung bersemangat dan ingin mendekat.

    Main air di tepian sungai Endcliffe Park sambil mencari-cari batu untuk dilempar ke air

    Aku memintanya memilih ranting dan daun dan mengajaknya ke atas jembatan. Dari sana kami melemparkan ranting dan daun ke sungai, lalu mengamati bagaimana benda-benda itu terbawa arus. Aktivitas yang sangat sederhana, tapi ternyata bisa bikin Arga begitu antusias. Dia berlarian mengikuti ranting dan daun sampai ke ujung sungai di gerbang taman.

    Karena saat itu cuaca dan air sungai masih cukup dingin, kami tidak bermain air secara langsung. Kami menyebrangi sungai melalui batu-batu sebagai pijakan lalu duduk di batu besar di tepian sungai. Arga mulai mengumpulkan batu-batu kecil dan mencoba melemparkannya ke sungai. Karena penasaran dia terus mencoba melemparkan batu sampai yang berukuran besar sambil memperhatikan percikan yang dihasilkan. Dari kegiatan sederhana itu dia jadi belajar tentang batu yang ringan dan berat, berbagai ukuran batu, serta kenapa percikannya bisa berbeda-beda.

    Rivelin Valley Park

    Kami berkunjung ke Rivelin Valley Park saat Sheffield sedang mengalami heatwave. Arga yang tadinya ngga mau basah-basahan akhirnya tergoda untuk bermain di sungai.

    Saat cuaca lagi panas terik dengan suhu tertinggi hingga 32° rasanya adem banget bisa main di sungai

    Rasanya menyenangkan sekali berjalan di air yang dingin sambil mencari batu mana yang aman untuk dipijak dan mana yang licin. Aktivitas sederhana seperti ini ternyata cukup menantang dan membuat Arga fokus memperhatikan langkahnya sendiri.

    Setelah puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan menyusuri area hutan. Agar lebih semangat berjalan, aku memberi Arga tantangan kecil: mencari objek atau pemandangan yang menurutnya menarik untuk difoto dan dia boleh meminjam hpku untuk mengabadikannya.

    Hasilnya cukup mengejutkan. Dari sudut pandang anak seusianya, ternyata dia bisa memilih mana yang layak diabadikan dan bagaimana angle pengambilan fotonya. Selain membuat perjalanan lebih seru, kegiatan ini juga melatih kemampuan observasi dan kreativitasnya.

    Salah satu foto hasil jepretan Arga


    Graves Park

    Banyak orang mengenal Graves Park karena animal farm-nya yang populer untuk anak-anak. Namun, area hutannya juga tidak kalah menarik untuk coba dijelajahi.

    Meskipun tidak seluas Rivelin Valley, jalur hutannya tetap menawarkan petualangan kecil yang menyenangkan. Beberapa bagian jalan ada yang berlumpur sehingga membuat perjalanan terasa lebih seru bagi anak-anak.

    Ayah Arga dan Arga dengan tongkat petualangannya menyusuri hutan di dalam Graves Park

    Di sini Arga sangat bersemangat mencari batang kayu yang bisa dijadikan tongkat petualangannya. Sepanjang perjalanan, dia juga terus mengamati dan mengomentari berbagai hal yang ditemuinya. Mulai dari batang pohon dengan ukuran berbeda, bunga berwarna-warni, sarang laba-laba, hingga suara burung yang bersahutan.

    Mendengarkan komentar dan pertanyaan anak saat berada di alam sering kali membuatku sadar bahwa mereka memperhatikan jauh lebih banyak hal daripada yang kita kira.

    Pengalaman mengajak Arga bermain di alam mengingatkanku bahwa membuat anak bahagia tidak selalu membutuhkan tiket masuk mahal atau tempat bermain yang mewah.

    Terkadang, sungai kecil, beberapa batu, ranting pohon, jalan setapak di hutan, dan waktu yang dihabiskan bersama orang tua sudah lebih dari cukup. Di balik aktivitas yang terlihat sederhana itu, anak sebenarnya sedang belajar banyak hal: mengamati, bertanya, memecahkan masalah, mengenal lingkungan, dan menggunakan imajinasinya.

    Yang terpenting, mereka mendapatkan kesempatan untuk merasakan dunia secara langsung, bukan hanya melalui layar.

    Jadi kalau sedang mencari aktivitas akhir pekan bersama anak, mungkin bisa dicoba mengunjungi taman, hutan kota, atau area alam terdekat. Siapa tahu, petualangan sederhana itu justru menjadi kenangan yang paling berkesan bagi mereka.

  • Jujur, dulu waktu pertama aku dengar summer di UK suhunya bisa mencapai 30°C, yang ada dalam pikiranku, “di Indonesia juga segitu bahkan lebih panas tiap hari, aman dong ya berarti?”
    Ternyata di UK ada yang namanya heatwave, dan akhirnya aku merasakan sendiri bagaimana panasnya.

    Heatwave di UK secara teknis ditetapkan saat suhu harian mencapai atau melebihi 25-28°C selama tiga hari berturut-turut. Dan panasnya  heatwave ini ternyata memang beda rasanya 😭 Padahal bulan Mei harusnya belum masuk summer kan ya?

    Minggu lalu memang cuaca di Sheffield cerah tanpa hujan sama sekali. Dan itu terjadi tepat saat liburan sekolah. Wah, harusnya cuaca cerah jadi menyenangkan dong ya buat ajak anak piknik di taman dan jalan-jalan? Namun sayangnya suhu udara terus naik bahkan mencapai 32°C. Mungkin kalau dibandingkan Indonesia angka itu masih terasa normal. Tapi entah kenapa, panasnya di sini benar-benar bikin tidak nyaman.

    Di rumah Arga rewel kepanasan, apalagi saat waktunya tidur. Yang biasanya dia udah tidur sebelum jam 9, beberapa hari sampai hampir jam 10 dia masih gelisah kepanasan. Bahkan akhirnya dia sampai tidur tanpa baju, sesuatu yang nggak pernah dia lakukan sebelumnya 🤣 Aku juga berkali-kali terbangun karena udara terasa pengap sekali padahal pintu kamar sudah sengaja dibuka biar sirkulasi udara lebih lancar.

    Diajak jalan-jalan ke luar rumahpun Arga tak semangat seperti biasanya. Baru jalan sebentar udah mengeluh capek dan berujung rewel. Aku yang kepanasan ditambah harus menghadapi rengekan Arga berujung jadi sakit kepala. Kliyengan bahkan sampai agak mual yang udah jarang banget aku rasakan sejak pindah ke sini. Kesalnya lagi, begitu masuk rumah bukannya terasa adem, malah seperti masuk oven.
    Baru aku sadar ternyata ada beberapa alasan kenapa heatwave di sini terasa lebih menyiksa dibanding panas tropis di Indonesia.
    1. Rumah di UK Memang Dibuat untuk Menahan Panas
    Salah satu penyebab utamanya ternyata desain rumah di UK sendiri.
    Karena sebagian besar waktu di sini cuacanya dingin, rumah-rumah dibangun supaya hangat saat winter: dinding tebal, insulation di mana-mana, jendela double glazing, ventilasi minim agar udara dingin tidak masuk, dan lantai juga full karpet.
    Tapi masalahnya, saat summer datang, panas jadi terjebak di dalam rumah. Apalagi rumah di UK tidak memakai AC. Jadi walaupun di luar “hanya” 30 derajat, di dalam rumah rasanya bisa jauh lebih gerah.

    Kalo waktu di Indo lagi kegerahan di luar ya langsung aja masuk rumah setel AC. Tapi disiningga bisa begitu 😭

    2. Udara di UK Lebih Kering
    Hal lain yang baru aku rasakan adalah udara kering saat heatwave.
    Selama semingguan kemarin ini hidungku terasa kering banget dan jadi banyak “upil” bahkan sampai ada darahnya. Aku pikir cuma cuaca dingin yang bisa bikin hidung kering dan berdarah, ternyata heatwave ini justru lebih parah keringnya.
    Di Indonesia walaupun panas, udaranya lebih lembap, jadi tubuh rasanya tidak sekering ini.

    3. Tubuh Kita Memang Terbiasa dengan Panas Tropis
    Kurasa tubuh kita yang besar di Indonesia juga sudah terbiasa dengan cuaca panas yang stabil sejak kecil.
    Sedangkan di UK, mayoritas waktu justru dingin atau sejuk. Jadi begitu suhu tiba-tiba naik drastis, badan terasa “kaget”.
    Makanya banyak orang UK sudah mulai kepanasan di suhu 28–30°C, sementara orang Indonesia awalnya mungkin mikir, “Ah cuma segitu.” Sampai akhirnya merasakan sendiri 🤣

    Sekarang aku baru paham kenapa setiap ada heatwave, berita di UK langsung heboh. Karena memang infrastrukturnya, rumahnya, bahkan tubuh orang-orangnya tidak terlalu siap menghadapi panas ekstrem.

    Eh tapi ada juga yang bisa disyukuri saat heatwave kemarin. Jemuranku jadi cepat kering meski dijemur dalam rumah tanpa nyalain heater jemuran. Dan aku juga manfaatin cuaca panas buat bikin tempe homemade. Waktu itu pernah coba bikin sampai 5 hari belum jadi, kemarin 2 hari aja udah terfermentasi sempurna deh..

    Dan minggu ini UK kembali ke setelan dasar, mendung dan hujan dengan suhu belasan derajat. Alhamdulilah adeeeemm….

  • Bulan lalu akhirnya kami berkesempatan mewujudkan salah satu bucket listnya Arga: Menonton live monster truck show. Yaa, Arga waktu 4 tahunan memang suka banget sama monster truck. Jadi waktu tau kami akan pindah ke UK, salah satu hal yang langsung aku bilang ke Arga adalah “Nanti kita bisa nonton monster truck beneran di sana.” Dan tentu aja Arga jadi makin excited buat ke UK, nggak sabar mau lihat apa yang biasa ditontonnya cuma lewat video YouTube.

    Sebenarnya kami menantikan untuk bisa nonton langsung Monster Jam show, tapi ternyata di tahun ini cuma ada di Cardiff (lumayan jauh dari Sheffield). Waktunya juga kurang pas karena ngga bertepatan dengan liburan sekolah. Tapi ternyata selain Monster Jam ada juga monster truck show dari Hot Wheels. Tahun ini temanya Glow and Fire dan ada beberapa kali show sepanjang tahun di beberapa kota. Akhirnya kami memilih show di M&S Bank Arena Liverpool yang bertepatan dengan libur Paskah bulan lalu.

    Suasana saat kami memasuki arena, semua monster truck sudah siap terparkir di posisinya

    Kami mengambil show terakhir di Minggu malam. Kebetulan waktu itu kami dapat harga promo dari ticketmaster sehingga hanya membayar seharga £58 untuk bertiga. Tidak ada antrian saat memasuki stadium. Kami langsung dibantu petugas untuk menemukan kursi yang sesuai dengan tiket kami.
    Memasuki arena suasananya langsung heboh. Musik keras ditambah anak-anak yang teriak excited di mana-mana.
    Monster Truck-nya Beneran Besar! Kalau lihat di YouTube rasanya sudah keren, tapi pas lihat langsung ternyata monster truck-nya BESAR banget. Ban-nya aja hampir setinggi orang dewasa. Yang paling bikin seru tentu pas mereka mulai atraksi: loncat, drifting, muter-muter membentuk donat dan menghancurkan mobil-mobil. Dan suara mesinnya benar-benar menderu kencang (jangan lupa bawa earmuff untuk anak-anak).

    Ada 6 monster truck yang beraksi malam itu: Rhinomite, Bone Shaker, Gunkster, Tiger Shark, Mega Wrex, dan Skelasaurus. Favoritnya Arga adalah Tiger Shark, sementara favoritku, Bigfoot, tidak bisa ikut beraksi karena ada problem mesin. Aksi yang paling ditunggu-tunggu Arga adalah waktu monster truck menghancurkan mobil-mobil. Seru banget!

    Di tengah pertunjukkan ada break untuk penonton yang ingin ke toilet atau membeli makanan dulu. Aksi monster truck juga diselingi dengan atraksi motor yang unjuk kebolehan melompat tinggi ke udara. Tambah seru deh..

    Arga berpose saat break persiapan atraksi motor

    Kalau anaknya suka mobil, Hot Wheels, atau kendaraan besar, menurutku ini worth it banget minimal sekali dicoba. Pengalamannya beda dibanding sekadar nonton video di rumah. Atmosfer live show, suara mesin, lampu, dan reaksi penonton bikin semuanya terasa jauh lebih seru. Yang excited bukan cuma anak-anak 🤣 Orang dewasa juga ikut kebawa hype pas lihat monster truck loncat-loncat di arena.
    Kalau nanti mereka tour lagi ke kota lain di UK, katanya sih Arga mau nonton lagi 😄

  • Sebelum menyusun itinerary liburan ke London, aku sempat mencari-cari referensi dari berbagai guidebook dan artikel wisata. Di situlah aku menemukan Hamleys Toy Store. Toko mainan yang berada di Regent Street ini diakui sebagai toko mainan tertua dan terbesar di dunia. Aku langsung membayangkan toko mainan seperti yang ada di film Home Alone dan tanpa pikir panjang langsung memasukkannya ke dalam itinerary liburan kami.

    Hamleys Toy Store didirikan oleh William Hamley pada tahun 1760. Toko mainan ini memiliki tujuh lantai dengan luas total mencapai sekitar 54.000 meter persegi. Tapi Hamleys bukan sekadar toko mainan biasa. Tempat ini menawarkan pengalaman interaktif lewat demonstrasi mainan, pertunjukan kecil, dan berbagai aktivitas seru di hampir setiap lantainya. Bahkan sejak masuk pintu utama saja suasananya sudah terasa sangat meriah dan magical, terutama untuk anak-anak.

    Ada Parade Badut Hamleys yang mengajak semua pengunjung bernyanyi dan bergoyang

    Basement Hamleys
    Di lantai paling bawah ini pengunjung akan dibawa masuk ke dunia magis Harry Potter. Dari boneka, LEGO, hingga berbagai merchandise Harry Potter tersedia lengkap di sini. Selain itu ada juga section Pop Mart dengan aneka collectible toys dan merchandise bertema game maupun film yang sedang populer.

    Lego Harry Potter seukuran Arga

    Ground Floor Hamleys
    Di lantai dasar ini kita akan menemukan berbagai produk eksklusif Hamleys, souvenir, dan aneka mainan bertema London. Selain sambutan hangat dari beruang Hamleys yang ikonik, section Paddington Bear juga langsung mencuri perhatianku. Gemas banget dan rasanya khas London sekali.

    Section Paddington Bear di dekat pintu masuk

    First Floor Hamleys
    Lantai ini dikhususkan untuk bayi dan balita. Ada berbagai mainan preschool, buku anak, perlengkapan bayi, hingga permainan edukatif usia dini. Beberapa brand yang tersedia antara lain Fisher Price, Tomy, Number Blocks, dan lain-lain.

    Second Floor Hamleys
    Lantai ini bisa jadi surga bagi para pecinta disney. Rasanya seperti ada di dalam Disney Store, koleksinya super lengkap. Selain itu ada juga boneka Barbie, LOL Surprise, Frozen yang lengkap dengan berbagai aksesorisnya, sampai Sylvanian Families. Ada juga Polly Pockets yang bikin aku nostalgia sama mainan masa kecilku dulu.

    Third Floor Hamleys
    Di lantai ini tersedia berbagai board game dan puzzle untuk segala usia, serta berbagai macam perlengkapan untuk permainan outdoor. Ada juga section science dengan berbagai learning kit dan experiments tools, animal figures, dan juga art and craft. Yang menarik, di sini juga terdapat Build-A-Bear Workshop, tempat pengunjung bisa membuat boneka sesuai keinginan sendiri.

    Fourth Floor Hamleys
    Lantai ini dipenuhi berbagai koleksi hobi dan collectible items, mulai dari model kit, mobil remote control, Star Wars, action figure superhero, hingga Pokémon. Rasanya lantai ini bakal jadi favorit bukan cuma anak-anak, tapi juga para ayah.

    Arga betah banget main mobil remote controlnya

    Fifth Floor Hamleys
    Lantai paling atas ini benar-benar surganya Arga: LEGO. Koleksinya besar banget dan lengkap sekali. Dari Lego Duplo, Lego classic, Lego City, Lego Disney, Lego Marvel, dan masih banyak lagi. Selain area LEGO, di lantai ini juga ada café yang jadi tempat sempurna untuk beristirahat setelah puas berkeliling dan eksplor seluruh isi Hamleys.

    Pada akhirnya, Hamleys bukan cuma tentang belanja mainan. Tempat ini lebih terasa seperti playground raksasa yang penuh warna dan imajinasi. Bahkan untuk orang dewasa pun rasanya sulit untuk tidak ikut excited melihat semua koleksi dan suasana di dalamnya.

    Dan buatku pribadi, melihat Arga begitu antusias mencoba berbagai mainan, berlari dari satu lantai ke lantai lain, sampai bingung memilih apa yang paling ia suka, justru jadi bagian paling menyenangkan dari kunjungan ini. Kadang memang sesederhana itu definisi liburan keluarga yang menyenangkan — bukan tentang tempat yang paling mewah atau itinerary yang paling padat, tapi tentang melihat anak merasa benar-benar bahagia.

  • Saat menyusun itinerary liburan, selain destinasi wisata yang dituju, masalah makan juga menjadi hal yang paling aku pikirkan. Sebagai muslim, awalnya aku sempat berpikir bakal susah mencari makanan halal di kota sebesar London. Ternyata sekarang pilihan makanan halal di sini cukup beragam dan mudah ditemukan. Dan yang paling bikin happy, beberapa tempat yang kami kunjungi ternyata cukup family-friendly dan nyaman untuk membawa anak kecil.

    Ini adalah beberapa rekomendasi tempat makan halal yang sempat kami coba selama di London:
    Warung Nusantara London

    Menu Warung Nusantara London, rasanya bingung mau pesan apa, pengen semuanya hihi

    Ini adalah tempat makan yang wajib masuk dalam itinerary-ku. Memang kami niat ke sini untuk mengobati rasa kangen masakan Indonesia. Tempat makannya tidak terlalu luas dan saat kami datang dalam kondisi yang ramai, sehingga kami harus menunggu antrian waiting list yang untungnya tidak terlalu lama.

    Menu pilihan kami. Nasi Tempong, Pecel Lele dan Sop Iga. Hati puas, perut kenyang

    Menu di sini cukup beragam, mulai dari ayam penyet, sop iga, sate, pempek, gado-gado, hingga aneka gorengan dan camilan khas Indonesia lainnya. Suasana restorannya juga terasa akrab karena waiters dan mayoritas pengunjungnya orang Indonesia. Rasanya seperti sedang pulang sebentar ke Indonesia di tengah sibuknya kota London. Dan perut juga terasa benar-benar tenang bisa menikmati nasi hangat lengkap dengan lauk khas Indonesia.

    Bali Bali Restaurant
    Berlokasi tak jauh dari Covent Garden, tempat ini juga jadi salah satu restoran Indonesia halal yang cukup populer di London. Kalau Warung Nusantara terasa seperti rumah makan rumahan, Bali Bali punya vibes resto otentik Indonesia. Tak hanya masakan khas Indonesia, resto ini juga menawarkan menu khas Malaysia dan Thailand.
    Menu yang kami coba waktu itu adalah Nasi Lemak dan Sate Ayam. Rasanya enak dan porsinya juga cukup mengenyangkan. Yang paling penting Arga doyan banget dan cukup untuk mengisi tenaga sebelum lanjut berkeliling museum lagi.

    Nasi Lemak komplit seharga £15 dan Sate Ayam seharga £11.5


    The Food District – Edgware Road

    Suasana di TheFood District, tempatnya bersih, nyaman dan tidak terlalu ramai pengunjung.

    Ini adalah satu tempat menarik untuk berburu makanan halal yang aku temukan lewat youtube. Lokasinya di Edgware Road, berupa foodcourt dengan semua tenant-nya sudah bersertifikasi halal. Pilihan juga sangat banyak, ada lebih dari 15 tenant. Tinggal pilih sesuai selera, mau masakan Western, Chinese, Japanese, Marocco, Arabian, Malaysian, Vietnamese, Italian, lengkap banget deh.

    Pilihan kami waktu itu jatuh pada Rice & Roast dengan menu andalan Roasted duck dan juga Hainan Chicken Rice. Bebeknya empuk, porsi nasinya pas, dan sausnya cocok di lidah.


    Borough Market
    Sebagai salah satu market paling terkenal di London, tentu saja Borough Market juga masuk daftar kunjungan kami. Tempat ini surganya pecinta kuliner karena pilihan makanannya benar-benar sangat banyak dari berbagai negara.
    Meski tidak semua tenant halal, ternyata cukup banyak pilihan halal atau seafood-based food yang aman untuk dicoba. Aku sempat berkeliling cukup lama sambil melihat berbagai makanan unik yang jarang ditemui sebelumnya.
    Yang paling seru dari Borough Market sebenarnya bukan cuma makanannya, tapi suasananya. Ramai, hidup, penuh aroma makanan dari berbagai penjuru dunia, dan rasanya benar-benar menggambarkan betapa multikulturalnya London.

    Waffle dengan topping saus coklat dan marsmallow seharga £7.5


    Dari pengalaman berburu makanan selama di London, aku jadi sadar kalau kota ini memang sangat ramah untuk muslim traveler. Pilihan makanan halal sekarang sudah mudah ditemukan dan variasinya juga luar biasa banyak. Bahkan rasanya perjalanan ke London belum lengkap tanpa mencoba kuliner dari berbagai budaya yang hidup berdampingan di kota ini.

  • Term break di pertengahan Februari lalu kami sekeluarga memutuskan untuk liburan ke London, sekalian aku ada keperluan mengurus paspor di KBRI. Karena ini adalah kunjungan pertama kami ke London, selain landmark-landmark kota London yang utama, museum juga wajib masuk dalam itinerary. Apalagi waktu itu masih musim dingin dan sering hujan, jadi destinasi indoor lebih jadi pilihan daripada outdoor seperti park dan playground.

    London memang terkenal punya banyak museum yang luar biasa. Museum-museum berkelas dunia tapi free tiket masuknya. Jadi pasti sayang banget kalo dilewatkan. Museum juga jadi destinasi yang pas dikunjungi apalagi untuk keluarga dengan anak kecil seusia Arga yang lagi hobi eksplor ini-itu.

    Natural History Museum

    Memasuki Natural History Museum disambut oleh bola dunia besar

    Berlokasi di South Kensington, museum bergaya arsitektur Romawi dengan sentuhan gotik ini merupakan salah satu museum terbesar di dunia dalam hal ukuran koleksi. Koleksinya ada lebih dari 80 juta spesimen botani, entomologi, mineralogi, paleontologi, dan zoologi. Yang ikonik di sini adalah kerangka paus biru berukuran 28,3m dan juga replika dinosaurus.

    Untuk mengunjungi museum ini sebaiknya booking dari jauh hari untuk dapat slot waktu yang sesuai dengan keinginan. Bisa datang on-the-spot tapi ada antrian yang tergolong sangat panjang. Museum ini tidak memungut biaya tiket alias gratis.

    Dari area pintu masuk yang lain, langsung disambut fosil dinosaurus yang sangat besar

    Saat kami berkunjung ke museum ini kondisinya sangat padat pengunjung. Mungkin karena sedang musim liburan sekolah. Tapi saking crowdednya malah jadi bikin Arga ngga nyaman dan rewel. Alhasil kami belum sempat eksplor ke semua zona pamerannya. Semoga suatu saat kami bisa balik lagi dengan kondisi yang lebih kondusif.

    British Museum

    Begitu masuk ke British Museum aku dan Arga langsung kompak bilang “wow” karena takjub akan desain museum ini

    Museum ini merupakan salah satu museum yang terbesar di Inggris. Museum ini menyimpan koleksi sejarah, seni, dan budaya manusia dari zaman ke zaman,dan dari seluruh belahan dunia. Sama seperti Natural History Museum, British Museum juga gratis untuk dikunjungi. Kita juga harus booking tiket dari jauh hari melalui website resminya.

    Antrian di pintu masuk mengular sangat panjang saat kami datang, tapi kondisi di dalam tidak sepenuh seperti saat di Natural History Museum. Mungkin karena museum ini lebih luas. Luas museum ini mencapai lebih dari 92.000 meter persegi.

    Langkah pertama memasuki museum ini, kami dibuat takjub oleh megahnya desain interior dengan sentuhan modern. Atap kaca mozaik raksasa menjadi daya tarik tersendiri yang mencuri perhatian pengunjung. Galei di museum ini dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan wilayah geografisnya, seperti Mesir Kuno, Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan Asia.

    Tak semua galleri kami kunjungi karena keterbatasan waktu dan tenaga. Kami hanya ke area mummy di Mesir Kuno serta ke Gallery Jepang di zona Asia. Kami juga sempat memasuki The Reading Room yang sangat menakjubkan.

    Science Museum

    Berada di satu area dengan Natural History Museum di South Kensington, museum ini juga jadi museum yang wajib dikunjungi tak hanya untuk anak-anak. Sesuai namanya, museum ini menampilkan koleksi ikonik kemajuan teknologi dan ilmiah dunia dengan berbagai pameran dan permainan interaktif.

    Ada area Mathematics, area Space yang menampilkan roket dan satelit asli, area Flight dengan koleksi pesawat terbang dan sejarahnya, dan banyak area lainnya. Pengunjung juga bisa melakukan percobaan sains pada alat-alat peraga interaktif di setiap gallery.

    Area Flight di Science Museum, selain menikmati pameran ada area art and craft di mana anak-anak bebas membuat prakarya

    Masuk ke museum ini gratis, tapi pengunjung harus melakukan pre-booking secara online melalui websitenya. Karena kami datang di musim liburan sekolah lagi-lagi kami haru menghadapi situasi yang super crowded. Untuk mencoba beberapa permainan interaktif kami harus antre cukup lama dan tentu saja ini membuat Arga bosan dan rewel.

    London Transport Museum

    Bus tingkat merah classic yang jadi ikon kota London

    Museum ini berlokasi di Covent Garden. Berbeda dengan museum-museum sebelumnya, kali ini yang gratis hanya tiket untuk anak-anak. Untuk usia di atas 17 tahun harus membeli tiket seharga £25. Pembelian tiket dilakukan secara online melalu website museum  sekaligus memilih tanggal dan jam kedatangan.

    Karena kami memilih kunjungan terpagi saat museum baru buka, kondisi masih sepi dan nyaman untuk Arga eksplor sepuasnya. Di pintu masuk Arga dibekali trail map di mana ia harus mengumpulkan stamp di setiap area pameran. Tentu saja ini aktivitas yang sangat menyenangkan dan membuatnya jadi semangat keliling museum.

    Sesuai namanya, museum ini memamerkan sejaran transportasi di London selama 200 tahun terakhir. Dari kereta kuda, kereta kayu, kereta uap bawah tanah pertama, dan tentu saja bus tingkat merah yang ikonik. Meski tidak terlalu besar tapi koleksi di dalamnya cukup banyak. Selain ada beberapa pameran interaktif, ada juga zona keluarga yang menyediakan tempat bermain untuk anak-anak. Pastinya ini jadi tepat favoritnya Arga. Anak bisa bermain peran menjadi pengemudi bus, pengemudi kapal, mekanik, dan lain-lain.

    Dari perjalanan museum hopping selama beberapa hari di London ini, aku jadi belajar satu hal. Jalan-jalan bersama anak ternyata bukan lagi tentang seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi atau seberapa lengkap itinerary yang bisa dicentang. Ada kalanya kita harus mengalah pada kondisi, mengurangi ambisi eksplor, dan menyesuaikan ritme perjalanan dengan kenyamanan anak.

    Dulu mungkin aku akan memaksakan untuk tetap masuk ke semua galeri atau bertahan lebih lama demi “sayang sudah jauh-jauh datang”. Tapi sekarang rasanya yang paling penting justru melihat Arga tetap happy, nyaman, dan menikmati pengalamannya. Karena pada akhirnya, liburan keluarga bukan tentang mengejar sebanyak mungkin destinasi, melainkan tentang menciptakan kenangan yang menyenangkan untuk semua anggota keluarga — terutama si kecil yang sedang belajar mengenal dunia dengan caranya sendiri.

  • Salah satu hal yang paling aku pikirkan sejak pindah ke Sheffield adalah: soal makan. Bukan cuma soal selera, tapi juga soal halal.

    Di awal-awal tinggal di sini, aku belajar satu hal: hidup di UK itu soal adaptasi. Termasuk urusan kuliner halal. Pelan-pelan, sambil jalan, akhirnya ketemu juga tempat-tempat yang bisa jadi andalan kalo bosan sama masakan di rumah.


    Fast food halal di Sheffield jadi solusi paling realistis, terutama di hari-hari sibuk atau saat lagi di luar rumah bareng anak.
    Popeyes
    Ini juara dan paling sering kami datangi. Lokasinya ada di The Moor, jadi hampir selalu kelewatan kalau lagi ke city center. Tempatnya cukup nyaman buat makan bareng keluarga. Ayamnya crispy, porsinya pas, dan rasanya comfort food banget. Kalo favoritnya Arga ya pasti Oreo Shake-nya.
    KFC (Halal – Certain Branches)
    KFC tetap jadi opsi, walaupun nggak semua cabang halal. Yang sering kami datangi adalah KFC di Hay Market. Soal rasa pastinya udah familiar. Yang terpenting di sini ada menu nasi. Cocok sama perut Indonesia.
    German Doner Kebab (GDK)
    Yes, ini juga bisa jadi pilihan kalau lagi pengen selain ayam goreng. Tapi selain lebih pricey, ini agak kurang cocok juga di lidah Arga. Karena meski aku pesan kids menu tapi sausnya tetap terasa pedas.

    Munchies
    Kalo fast food yang satu ini tergolong masih cukup baru, lokasinya di London Road. Grilled wings-nya enak banget. Chicken Tenders-nya juga crispy banget dan uniknya ada rasa rempah yang surprisingly Arga malah doyan banget. Dia sampai berkali-kali bilang ”this is so yummy” (Gaya euy udah bisa pake bahasa Inggris).

    Subway
    Ini juga bisa jadi pilihan kalo pengen yang ngga terlalu berat. Lokasi Subway halal ada di Hay Market, sebelahan sama KFC. Selain roti-rotian sandwich ada juga menu jacket potato tapi belum pernah aku coba.

    Selain fast food, pelan-pelan kami mulai eksplor tempat lain, nyoba restoran baru, dan nemuin comfort zone sendiri.

    Uncle Lins
    Restoran Chinese ini jadi favorit keluarga kami, selalu jadi pilihan kalo lagi pengen makan di luar tapi ngga mau jauh dari rumah. Andalannya adalah dry pot, tapi menu wajib yang selalu kami pesan adalah Beef Brisket Soup with Hand Pulled Noodle. Ini comfort food banget apalagi kalo cuaca pas lagi dingin. Harganya juga terjangkau, £8.5 per porsi yang cukup untukku berdua dengan Arga karena porsinya cukup besar.

    Comfort food kami sekeluarga. Enak di lidah, nyaman di perut, super kenyang.

    Cambridge Street Collective
    Ini adalah food court yang berlokasi di city center. Pilihan halal stall-nya cukup banyak, mulai dari pasta, ramen, Thai food, Malaysian Food, Vietnamese sampai Korean Food juga ada. Kalo favoritnya Arga yang selalu dia pesan kalo ke sini yaitu Nasi Lemak dari Little Penang. Harganya £12an dan porsinya juga tergolong besar. Di sini juga ada area bermain anak berupa kolam pasir lengkap dengan berbagai peralatan bermainnya.

    Rassams Creamery
    Kalo ini adalah resto yang ngga mungkin ditolak Arga. Lokasinya di London Road dan menyajikan berbagai macam dessert. Ada gelato, cake, crepes, waffle, pancake, donat dan lain-lain. Yang unik dari tempat ini adalah pesanan kita diantar oleh robot.

    Nutella crepes with banana and strawberry plus ice cream pistachio

    Joomak
    Ini resto Korean Food yang baru kami coba. Lokasinya di dekat The Moor dan menawarkan berbagai macam hidangan khas korea, mulai dari ramyun, bulgogi, ayam goreng, dan lain-lain. Di sini porsinya juga sangat besar. Kami cuma pesan 2 menu untuk dimakan bertiga tapi tetap berakhir pulang dengan perut sesak kekenyangan.

    Indonesian Cafe
    Baru beberapa bulan buka di Sheffield, tempat ini tentu saja jadi andalan warga Indonesia yang kangen masakan Indonesia. Andalannya adalan Nasi Padang, tapi pilihan makanan lainnya juga ngga kalah enak. Mau Pempek? Ada. Mau Batagor? Ada. Mau mie ayam bakso? Ada juga. Mau gado-gado? Ada juga. Cemilan kayak tempe mendoan, tahu isi, bakwan, bahkan kue cubit juga ada lho. Beneran obat kangen Indonesia.

    Seporsi nasi Padang dengan rendang dan telur dadar, rasanya asli Minang

    Makan halal di Sheffield itu mungkin nggak semudah di Indonesia. Walaupun halal, kadang ngga sesuai juga sama cita rasa lidah Indonesia.
    Tapi yang terpenting buatku, selama Arga mau makan tanpa complain itu sudah lebih dari cukup.