Jendela Cerita Mama Arga

Di balik jendela, banyak cerita tumbuh dan bermakna

  • Salah satu destinasi yang paling ingin kami kunjungi saat berada di Leeds adalah Royal Armouries Museum. Museum ini merupakan salah satu museum senjata dan baju zirah terbesar dan paling penting di dunia, dengan koleksi yang berasal dari berbagai periode dan belahan dunia.

    Royal Armouries Museum berada di sebuah gedung modern lima lantai dengan luas hampir 7.000 m². Lokasinya berada di kawasan Leeds Dock, sekitar 20 menit berjalan kaki dari area city centre.

    Begitu sampai di area museum, Arga sudah langsung excited karena melihat beberapa koleksi meriam yang dipajang di luar gedung.

    Sayangnya, kami masih harus menunggu sebentar karena tiba sebelum museum dibuka. Tepat pukul 10.00, pintu museum akhirnya dibuka dan kami pun langsung masuk.

    Oh ya, Royal Armouries Museum tidak memungut biaya tiket masuk. Namun, pengunjung disarankan melakukan booking terlebih dahulu, terutama jika datang saat weekend atau musim liburan.

    Hall of Steel yang langsung bikin kami takjub

    Di lantai dasar, kami langsung dibuat terperangah saat memasuki Hall of Steel. Ini adalah sebuah atrium kaca setinggi tujuh lantai yang dipenuhi ribuan koleksi senjata dan baju zirah, mulai dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit.

    Pemandangannya benar-benar impressive.

    Karena koleksinya sangat banyak, kami memutuskan naik lift terlebih dahulu ke lantai paling atas dan memulai perjalanan dari sana, lalu turun secara bertahap melewati berbagai galeri.

    Oriental & Asia and Africa Gallery

    Galeri ini berisi berbagai koleksi senjata, zirah, dan artefak militer dari berbagai wilayah non-Eropa. Ada koleksi zirah gajah, senjata tradisional, hingga perlengkapan militer dari berbagai negara. Ada juga koleksi samurai dari Jepang.

    Tapi yang paling membuatku senang tentu saja ketika menemukan keris dari Indonesia di antara koleksi yang dipamerkan. Rasanya selalu menyenangkan menemukan sesuatu yang familiar dari Indonesia di museum yang berada jauh dari rumah.

    Di lantai yang sama juga terdapat pameran khusus. Saat kami berkunjung, pameran yang sedang berlangsung adalah Genghis Khan. Pameran ini masih bisa dinikmati hingga 1 November 2026.

    War Gallery

    Selanjutnya kami masuk ke War Gallery yang menampilkan berbagai koleksi senjata api dan perlengkapan militer dari berbagai periode, mulai dari era pertengahan hingga zaman modern.

    Koleksinya cukup beragam dan memperlihatkan bagaimana teknologi persenjataan berkembang dari waktu ke waktu.

    Self-Defence Gallery

    Berbeda dengan War Gallery, Self-Defence Gallery lebih banyak membahas senjata dan perlengkapan yang digunakan untuk pertahanan diri. Di sini terdapat berbagai senjata sipil, alat perlindungan diri, serta koleksi pedang dan belati bersejarah.


    Tournament Gallery

    Galeri yang satu ini menurutku termasuk yang paling menarik secara visual. Tournament Gallery menampilkan berbagai koleksi zirah yang digunakan dalam turnamen, termasuk perlengkapan berkuda dan zirah milik Raja Henry VIII.

    Melihat zirah lengkap yang ukurannya cukup besar membuat kita bisa membayangkan seperti apa pertandingan dan kehidupan para ksatria pada masa tersebut.


    Selain melihat koleksi, di jam-jam tertentu pengunjung juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan dan fight demonstration yang diadakan di beberapa galeri. Sayangnya, kami tidak sempat menyaksikan semuanya karena jadwal pertunjukan tidak selalu bertepatan dengan waktu kunjungan kami. Kalau ingin melihat pertunjukannya, sebaiknya cek jadwal terlebih dahulu sebelum datang supaya bisa mengatur rute menjelajah museum.

    Pulang Membawa Pedang dan Topeng Zirah

    Setelah puas berkeliling, kami turun kembali ke lantai dasar. Sebelum keluar museum terdapat toko souvenir yang cukup besar dengan berbagai merchandise bertema ksatria dan persenjataan.

    Tentu saja Arga langsung punya permintaan. Dia memilih topeng zirah dan sebuah pedang. Katanya, supaya bisa seperti prajurit yang tadi dilihatnya di museum. 😆

    Akhirnya kami keluar museum dengan satu anak yang merasa dirinya sudah resmi menjadi seorang prajurit.

    Mencoba Leeds Water Taxi

    Setelah selesai mengunjungi Royal Armouries Museum, kami memutuskan tidak berjalan kaki kembali ke city centre. Kali ini kami mencoba pengalaman yang berbeda dengan naik water taxi.

    Water taxi ini menghubungkan Leeds Dock dengan Granary Wharf yang berada tak jauh dari Leeds Station. Perjalanan dari Leeds Dock menuju Granary Wharf hanya membutuhkan waktu sekitar 12 menit.

    Biasanya ada dua kapal yang beroperasi, tetapi saat kami datang hanya satu kapal yang beroperasi. Akibatnya kami harus menunggu sedikit lebih lama sebelum akhirnya bisa naik.

    Meskipun perjalanannya singkat, naik water taxi menjadi pengalaman yang menyenangkan karena kami bisa melihat kawasan Leeds dari sisi yang berbeda.

    Apakah Royal Armouries Museum Worth It?

    Menurutku, sangat worth it, terutama kalau berkunjung bersama anak yang tertarik dengan sejarah, senjata, ksatria, atau hal-hal berbau petualangan.

    Arga sendiri terlihat sangat menikmati kunjungan ini. Mulai dari melihat meriam di luar museum, menemukan samurai Jepang dan keris Indonesia, sampai akhirnya pulang membawa pedang dan topeng zirah.

    Yang paling menarik, museum ini gratis, koleksinya sangat banyak, dan bangunannya sendiri sudah menjadi pengalaman tersendiri.

    Kalau punya waktu cukup saat berkunjung ke Leeds, Royal Armouries Museum menurutku termasuk destinasi yang sayang untuk dilewatkan.

    Dan buat kami, museum ini bukan cuma tentang melihat senjata dan baju zirah. Ada momen kecil ketika kami menemukan keris Indonesia yang membuat perjalanan ini terasa sedikit lebih spesial ❤️

  • Tidak terasa sudah hampir satu tahun kami tinggal di Sheffield. Rasanya baru kemarin kami sibuk mencari rumah pertama, dan sekarang sudah waktunya bagi kami untuk mencari rumah yang baru.

    Awalnya aku pikir mencari rumah kedua akan jauh lebih mudah.

    Kami sudah mengenal Sheffield. Kami sudah tahu area mana yang menurut kami ideal, sudah tahu lokasi mana yang ingin dihindari, dan yang paling penting, kali ini kami bisa melakukan viewing rumah secara langsung.

    Berbeda dengan saat mencari rumah pertama. Waktu itu kami hanya bermodalkan rekomendasi dari teman-teman Indonesia yang sudah lebih dulu tinggal di sini tentang lokasi mana yang paling oke. Viewing rumah pun dibantu oleh teman kami, sementara kami hanya bisa melihatnya melalui videocall.

    Ternyata, mencari rumah kedua justru lebih sulit dari yang kubayangkan.

    Bukan karena kami tidak tahu mau tinggal di mana, tetapi karena sekarang kami punya rumah pertama sebagai pembanding.

    Rumah pertama kami bisa dibilang berada di lokasi premium. Letaknya sangat dekat dengan area city centre, hanya saja memang agak jauh dari sekolah Arga. Rumahnya juga terbilang sangat nyaman. Living room-nya cukup luas dan area dapurnya terpisah.

    Kebanyakan rumah di sini memiliki dapur yang menyatu dengan dining room dan ruang tamu. Jadi, memiliki ruang dapur yang terpisah menurutku adalah salah satu privilege tersendiri.

    Lantas, kenapa kami ingin pindah?

    Alasan utamanya adalah karena rumah kami sekarang berada di flat lantai 4 tanpa lift.

    Empat lantai tanpa lift yang awalnya terasa seperti tantangan, tapi lama-lama justru menjadi bagian dari keseharian kami di Sheffield. Tangganya terlihat estetik tapi kalau dijalani ya cukup melelahkan juga 😅

    Sebetulnya kami sudah terbiasa. Naik turun tangga setiap hari juga bukan masalah besar. Hanya saja, kalau habis belanja, baru terasa beratnya naik sampai lantai 4.

    Apalagi kalau belanjaannya lengkap: beras, telur, minyak, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya.

    Rasanya baru setengah perjalanan sudah ingin menyerah dan berharap ada yang bisa membawakan belanjaan sampai atas 😅

    Tapi ternyata tinggal di lantai 4 juga punya sisi menyenangkan.

    Tinggal di lantai 4 memang melelahkan, tapi pemandangan dari ketinggian tidak pernah membosankan. Apalagi kalau langit Sheffield sedang cantik seperti ini. Salah satu hal yang diam-diam akan membuatku berat meninggalkan rumah ini.

    Pencahayaan dan sirkulasi udara di rumah kami sangat baik sepanjang hari. Dari pagi sampai sore, kami masih mendapatkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Membuka semua jendela juga membuat rumah terasa adem karena angin sepoi-sepoi bisa masuk dengan leluasa.

    Jadi, meskipun ada alasan yang membuat kami ingin pindah, semakin kami mencari rumah baru, semakin kami sadar bahwa rumah yang sekarang ternyata punya banyak kelebihan.

    Dan di situlah masalahnya.

    Ada rumah yang berada di lantai bawah, tetapi terasa gelap karena kurang mendapatkan cahaya matahari.

    Ada yang berada di lantai atas dengan fasilitas lift, tetapi bangunannya terasa cukup tua.

    Ada yang lokasinya dekat dengan sekolah Arga, tetapi menurutku areanya terlalu sepi dan cukup jauh berjalan kaki ke city center.

    Ada yang hanya berada di lantai 1, tetapi living room-nya sangat sempit.

    Ada juga rumah yang berupa satu rumah utuh, bukan flat, tetapi kamar Arga dan kamar kami berada di lantai yang berbeda.

    Pokoknya, selalu saja ada satu hal yang membuat kami merasa kurang cocok.

    Belum lagi kami bertiga punya sudut pandang yang berbeda.

    Ayahnya Arga suka, aku dan Arga tidak.

    Arga suka, aku dan ayahnya tidak.

    Aku suka, yang lain tidak.

    Begitu terus.

    Mungkin inilah salah satu perbedaan mencari rumah sekarang dibandingkan saat pertama kali datang ke Sheffield. Dulu, kami hanya punya satu tujuan: yang penting dapat rumah dan bisa segera tinggal.

    Sekarang, kami sudah tahu seperti apa rasanya tinggal di Sheffield. Kami sudah tahu rumah seperti apa yang membuat kami nyaman, lokasi seperti apa yang kami sukai, dan hal-hal kecil apa yang ternyata penting untuk kehidupan sehari-hari.

    Akhirnya, mencari rumah kedua bukan lagi sekadar mencari tempat untuk tinggal.

    Kami sedang mencari rumah yang bisa menggantikan kenyamanan rumah pertama—dan ternyata, itu tidak mudah.

    Bahkan setelah beberapa kali viewing, aku sendiri jadi mulai bertanya-tanya: apakah kami benar-benar harus pindah?

  • Destinasi pertama kami setibanya di Leeds adalah Roundhay Park. Roundhay Park merupakan salah satu taman terbesar di Leeds dan ternyata cukup mudah dijangkau dari city centre.


    Kami naik bus X99 dari Leeds city centre dan turun tepat di dekat gerbang masuk taman. Perjalanan memakan waktu sekitar 25–30 menit.


    Roundhay Park
    Kami tiba di Roundhay Park sekitar pukul 10.30. Suasana pagi itu cukup sepi. Hanya terlihat beberapa anak kecil yang bersepeda ditemani orangtuanya.

    Pemandangan danau yang luas di Roundhay Park

    Kami berjalan menyusuri pinggiran danau untuk menuju area playground. Danau di Roundhay Park sangat luas dan dihuni cukup banyak bebek yang terlihat asyik berenang. Di dekat danau juga terdapat sebuah cafe yang ternyata cukup ramai. Bahkan saat kami lewat, cafe tersebut sudah menerapkan waiting list.

    Semakin mendekati cafe semakin banyak bebek yang kami temui

    Setelah sampai di playground, Arga langsung bersemangat ingin mencoba semuanya. Playground-nya cukup luas dengan pilihan permainan yang beragam, mulai dari kursi putar, jungkat-jungkit, panjatan, hingga perosotan.

    Sayangnya, saat itu cuaca sedang sangat panas dan terik. Arga pun tidak betah berlama-lama bermain. Kami akhirnya memutuskan membeli gelato dari ice cream truck yang parkir tepat di depan gerbang playground. Lumayan, sedikit es krim untuk mengusir panas. 😆

    Sambil menikmati gelato, kami melanjutkan berjalan-jalan ke area lain di taman. Kami sempat mencoba berbagai peralatan gym outdoor yang tersedia dan duduk-duduk di sebuah gazebo sambil menikmati snack yang kami bawa.

    Nge-gym with a view tapi panasnya luar biasa, terasa seperti matahari dekat dari kepala

    Sebenarnya masih banyak area taman yang ingin kami jelajahi, terutama hamparan rerumputan luas yang terlihat sangat menyenangkan untuk piknik. Namun karena matahari sedang benar-benar terik, kami akhirnya menyerah. Daripada malah kepanasan, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Tropical World.

    Ada gazebo yang lumayan buat ngadem sebentar, lokasinya dekat pintu keluar

    Tropical World

    Tropical World terletak persis di seberang Roundhay Park sehingga sangat mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Tempat ini bisa dibilang seperti mini zoo indoor dengan berbagai area yang dibuat menyerupai habitat hewan tertentu.

    Sebelum masuk, kami sempat menikmati area taman di bagian luar. Ada banyak bunga berwarna-warni yang membuat area ini terlihat cantik. Sayangnya, saat kami datang kolamnya sedang tidak berisi air sehingga air mancur yang ada di sana juga tidak beroperasi.

    Tiket masuk Tropical World saat kami berkunjung adalah £9 untuk dewasa dan £6 untuk anak-anak. Di area pembelian tiket juga tersedia toko souvenir, cafe, dan toilet.

    Setelah membeli tiket, aku dan Arga langsung masuk ke area hewan.

    Area pertama yang kami temui adalah butterfly house. Di sini kami bisa melihat banyak sekali kepompong serta beberapa kupu-kupu yang beterbangan di sekitar kami. Di area yang sama juga terdapat kolam ikan koi dan kura-kura serta kandang buaya yang dibuat terpisah.

    Arga sedang mengamati kepompong

    Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke zona aquarium. Ada berbagai jenis ikan berukuran kecil, termasuk udang dan kepiting. Ada juga kolam yang berisi ikan-ikan berukuran cukup besar.

    Selain aquarium, Tropical World juga memiliki area reptile, aviary, serta area gurun. Salah satu hewan yang paling menarik perhatian Arga adalah meerkat yang terlihat sangat menggemaskan.

    Satu-satunya zona yang terasa adem karena ada gemericik air terjun buatan ke kolam ikan

    Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di dalam Tropical World. Saat itu sedang terjadi heatwave sehingga beberapa area terasa cukup panas dan pengap. Padahal ada beberapa jadwal feeding time yang sebenarnya menarik untuk ditonton.

    Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, kami memutuskan untuk kembali ke city centre dan mencari makan siang.

    Untuk perjalanan pulang, kami naik bus nomor 12 dan turun di area Corn Exchange. Dari sana kami melanjutkan perjalanan untuk mencari makan siang sekaligus menjelajahi Leeds city centre.

    Apakah Roundhay Park dan Tropical World Worth It?

    Menurutku, keduanya cukup worth it untuk dimasukkan ke itinerary kalau kamu berlibur ke Leeds bersama anak.

    Roundhay Park cocok untuk sekadar berjalan-jalan santai, bermain di playground, piknik, atau menikmati suasana outdoor. Karena areanya sangat luas, sebenarnya kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini kalau cuacanya mendukung.

    Sementara Tropical World menjadi pilihan yang menarik kalau anak suka melihat hewan. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tetapi ada cukup banyak jenis hewan dan area yang bisa dijelajahi.

    Sayangnya, kami datang saat cuaca sedang sangat panas sehingga pengalaman kami di kedua tempat ini sedikit berbeda dari yang seharusnya. Kami jadi tidak bisa mengeksplorasi Roundhay Park terlalu jauh dan juga tidak betah terlalu lama berada di beberapa area Tropical World.

    Kalau berkunjung saat cuaca lebih sejuk, menurutku kombinasi Roundhay Park + Tropical World bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas yang menyenangkan untuk mengawali perjalanan di Leeds bersama anak.

  • Leeds adalah salah satu kota besar yang terdekat dari Sheffield. Jaraknya hanya sekitar 60 km, bila ditempuh menggunakan kereta hanya memakan waktu 46 menit. Sebelumnya Ayahnya Arga sudah beberapa kali ke Leeds untuk urusan studinya. Namun kali ini karena bertepatan dengan liburan sekolah Arga jadi kami bisa ikut, sekalian liburan tipis-tipis.

    Day 1

    Roundhay Park

    Pemandangan cantik di danau Roundhay Park, bebek-bebek berenang sementara burung-burung berjajar rapi di tiang

    Dari stasiun, sementara Ayahnya Arga langsung ke Leeds University, aku dan Arga memilih untuk pergi ke Roundhay Park. Roundhay Park adalah salah satu taman terbesar di Leeds. Ada danau yang luas dengan banyak bebek, playground, dan gym area. Kami juga sempat menikmati gelato dari ice cream truck, pas untuk menyegarkan di tengah panas yang menyengat.

    Cerita lebih detail tentang Roundhay Park bisa disimak di sini https://mamaarga.com/2026/08/14/roundhay-park-dan-tropical-world-leeds-jalan-jalan-seru-bersama-anak/

    Tropical World

    Puas bermain di Roundhay Park, kami menyeberang ke Tropical World. Tropical World adalah kebun binatang indoor dan taman botani dengan iklim buatan. Areanya tidak terlalu luas, tapi koleksinya cukup banyak, dimulai dari rumah kupu-kupu, akuarium, hingga area gurun. Kami membayar £15 untuk 1 tiket dewasa dan 1 tiket anak.

    Cerita lebih detail tentang Tropical World bisa disimak di sini https://mamaarga.com/2026/08/14/roundhay-park-dan-tropical-world-leeds-jalan-jalan-seru-bersama-anak/

    Trinity Kitchen

    Kami kembali ke area city center untuk makan siang. Kami memutuskan untuk mencoba mencari pilihan halal di Trinity Kitchen yang merupakan food court di lantai paling atas Trinity Leeds, pusat perbelanjaan terbesar di kawasan city center. Kami memilih Masri Egyptian Street Food dengan menu nasi rempah khas Egypt bertopping ayam dan udang panggang. Untuk 2 porsi makanan tersebut kami menghabiskan £21.

    Leeds Central Library

    Bangunan Leeds Central Library yang menyatu dengan Leeds Art Gallery

    Sambil menunggu waktu check in hotel, kami memutuskan untuk ke Leeds Central Library yang masih berada di area city center. Kami langsung menuju area anak-anak dengan beberapa beanbag yang sangat nyaman. Arga langsung sibuk memilih buku-buku untuk dibaca.

    Travelodge Leeds Central

    Kami menginap di hotel Travelodge Leeds Central yang juga berada di sekitar city center, sangat dekat dengan stasiun kereta. Kami memilih tipe small family room dengan 1 King bed dan 1 single bed, pas banget buat kami bertiga. Kamar mandinya juga sudah ada bathub. Rate kamar yang kami bayar £73 per malam termasuk sarapan. Sore itu kami check in dan beristirahat dulu di hotel sambil menunggu waktu makan malam.

    Zan Asian Malaysian Kitchen

    Untuk dinner kami memilih resto Malaysia yang hanya 10 menit jalan kaki dari hotel. Aku memilih Nasi Lemak komplit untuk dimakan berdua dengan Arga, sementara Ayahnya Arga memilih Laksa. Kami juga memesan banana fritter with ice cream dan es milo. Totalnya kami menghabiskan £34 dan pulang dengan perut kekenyangan karena porsinya yang cukup besar.

    Victoria Leeds dan sekitarnya

    Toko sudah tutup semua, jadi kami cuma numpang foto-foto aja 😁

    Karena langit masih terang kami lanjut jalan-jalan dulu masih di area city center. Kami berfoto-foto di Victoria Leeds dan Corn Exchange yang memiliki interior sangat cantik.

    Day 2

    Royal Armouries Museum

    Aneka senjata yang tersusun rapi ini membuat takjub saat memulai perjalanan di Royal Armouries Museum

    Setelah menikmati sarapan di hotel, tujuan pertama kami hari itu adalah Royal Armouries Museum di dekat Leeds Dock. Jaraknya sekitar 20 menit berjalan kaki dari hotel. Museum gratis ini merupakan museum terbesar dan terbaik di Leeds, berisi koleksi senjata dan baju zirah. Arga sampai beli topeng dan pedang juga, biar kaya prajurit katanya.

    Cerita lengkap jalan-jalan di Royal Armouries Museum bisa dibaca di sini https://mamaarga.com/2026/08/23/royal-armouries-museum-leeds-koleksi-senjata-dan-zirah-yang-bikin-takjub/

    Leeds Water Taxi

    Perjalanan dari Leeds Dock menuju Granary Wharf. Arga katanya suka banget naik water taxi 🤗

    Untuk kembali ke pusat kota kami memilih untuk mencoba water taxi. Leeds water taxi adalah layanan transportasi perahu berwarna kuning dengan rute Leeds Dock-Granary Wharf (dekat Leeds Station) dan sebaliknya. Durasi perjalanan sekitar 12 menit dengan biaya £3.5 per orang.

    Wok to Walk

    Sebelum melanjutkan perjalanan kami makan siang di Wok to Walk yang berada tak jauh dari Trinity. Menu yang ditawarkan adalah makanan khas Asia seperti Donburi, Pad Thai, dan Yakisoba dengan harga £10-13 per porsi.

    Leeds City Museum

    Leeds City Museum, salah satu destinasi wajib kalo liburan ke Leeds

    Destinasi berikutnya adalah Leeds City Museum yang juga gratis. Museum ini berisi koleksi sejarah alam, peradaban kuno, dan sejarah Leeds. Di galeri ancient world bahkan ada mummy asli Nesyamun yang sudah berusia 3.000 tahun. Konon ini adalah satu-satunya mummy yang selamat dari pengeboman Perang Dunia II.

    Leeds Art Gallery

    Area art space yang sangat nyaman. Tak hanya bikin prakarya di sini anak-anak juga boleh bermain susun balok

    Kami juga mengunjungi Leeds Art Gallery yang lokasinya berada pada gedung yang sama dengan Leeds Central Library. Galeri ini juga tidak memungut biaya untuk tiket masuk. Yang paling jadi favoritnya Arga adalah area art space di mana anak-anak bisa mencoba membuat karyanya sendiri.

    Jolibee

    Sebelum menuju stasiun kami mampir Jolibee untuk mengisi perut lagi. Kalau biasanya aku cuma makan nasi dan ayam, kemaren aku coba sphagettinya. Ternyata enak banget dan cukup besar juga porsinya.

    Liburan singkat ke Leeds ini benar-benar menyenangkan. Meski hanya 2 hari 1 malam, kami bisa mengunjungi taman, museum, galeri seni, perpustakaan, hingga mencoba beberapa tempat makan halal yang enak. Hampir semua destinasi yang kami datangi juga ramah anak dan banyak yang gratis, sehingga cukup hemat untuk dijadikan pilihan short getaway bersama keluarga.

    Kalau ditanya apakah Leeds layak dikunjungi? Menurutku jawabannya iya. Kota ini tidak terlalu ramai, mudah dijelajahi dengan berjalan kaki, dan memiliki perpaduan ruang hijau, museum, serta bangunan bersejarah yang membuat perjalanan terasa santai namun tetap menarik.

    Kalau kamu sedang tinggal di Sheffield atau kota-kota lain di Yorkshire dan sedang mencari ide liburan singkat, Leeds bisa menjadi salah satu destinasi yang patut masuk dalam daftar.

    Semoga itinerary ini bisa membantu kamu yang sedang merencanakan perjalanan ke Leeds. Tapi perlu dicatat bahwa museum dan galeri di Leeds tutup setiap hari Senin yaa. Kalau ada tempat favorit lain di Leeds yang menurutmu wajib dikunjungi, boleh banget berbagi di kolom komentar ya!

  • Rasanya baru kemarin Arga memulai perjalanan sekolah pertamanya di Year 1. Ternyata sekarang kami sudah sampai di penghujung tahun ajaran. Hari-hari terakhir sekolah sebelum libur musim panas sekaligus kenaikan kelas terasa cukup mengharukan bagiku. Walaupun Arga tidak mengikuti satu tahun ajaran penuh, rasanya perkembangan belajarnya sudah sangat luar biasa.

    Menerima rapor Arga menjadi salah satu momen yang paling kutunggu. Tapi jangan dibayangkan ada acara pembagian rapor seperti di Indonesia. Di sini, rapor hanya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, lalu dibawa pulang di dalam tas anak saat jam sekolah usai.

    Hari itu bukan hanya rapor yang dibawa pulang. Semua folder berisi worksheet yang dikerjakan selama Year 1 juga diberikan kepada orang tua. Dari situlah aku bisa melihat perjalanan belajar Arga sejak pertama kali masuk sekolah hingga sekarang, terutama perkembangan kemampuan menulisnya.

    Menulis sesuai bunyinya, itulah yang dilakukan Arga dalam proses belajarnya

    Aku masih ingat, sebelum masuk sekolah Arga belum bisa menulis kata selain namanya sendiri. Lalu, dari lembar demi lembar worksheet itu, aku melihat bagaimana tulisannya yang dulu masih berantakan, tanpa spasi, dan ukuran hurufnya belum konsisten, perlahan berubah menjadi jauh lebih rapi dan mudah dibaca. Rasanya seperti melihat perjalanan belajarnya dalam satu bundel kertas.

    Di balik setiap lembar worksheet ini tersimpan cerita tentang seorang anak yang sedang bertumbuh. Mungkin bagi orang lain ini hanya tumpukan kertas. Tapi bagiku, ini adalah kenangan dari satu tahun yang tak akan terulang lagi.

    Kalau di Indonesia rapor biasanya berbentuk buku, di sini rapor hanya terdiri dari tiga lembar kertas. Lembar pertama berisi nilai untuk setiap mata pelajaran, lembar kedua berisi komentar dari guru, sedangkan lembar terakhir disediakan untuk diisi komentar atau tanggapan dari orang tua.

    Sistem penilaiannya menggunakan skala 1–6. Nilai 1–3 menunjukkan kemampuan yang masih berada di bawah standar, nilai 4 berarti mendekati standar, nilai 5 sesuai standar yang diharapkan, dan nilai 6 menunjukkan pencapaian di atas standar. Selain nilai akademik, guru juga memberikan penilaian terhadap progress dan effort anak dengan kategori Good atau Excellent.

    Dan untuk Arga, seperti yang sudah kuduga, nilai tertingginya ada pada mata pelajaran Art, yaitu 6, dengan penilaian Excellent untuk progress maupun effort. Selain itu, ia juga memperoleh nilai 5 pada Mathematics dan Design & Technology, sementara mata pelajaran lainnya mendapat nilai 4.
    Bagiku, ini adalah hasil yang sangat membanggakan. Bukan semata-mata karena angkanya, tetapi karena Arga baru pertama kali bersekolah, harus beradaptasi dengan bahasa baru, lingkungan baru, dan sistem pendidikan yang sama sekali berbeda.

    Rapor memang hanya tiga lembar kertas. Tapi bagi orang tua, perjalanan yang sesungguhnya justru ada di tumpukan worksheet yang dibawa pulang. Dari sanalah aku melihat bagaimana seorang anak yang dulu hanya bisa menulis namanya sendiri, perlahan belajar menyusun huruf, kata, lalu kalimat. Mungkin perkembangannya terjadi sedikit demi sedikit setiap hari. Tapi saat melihat semuanya terkumpul dalam satu folder, barulah aku sadar bahwa ia sudah melangkah sangat jauh.

    Bangga? Tentu saja.
    Aku berharap perjalanan Arga di Year 2 nanti akan semakin menyenangkan. Semoga ia terus bertumbuh, terus belajar, dan tetap menikmati setiap prosesnya. Apa pun hasilnya nanti, kami akan selalu ada untuk mendukungnya.

    Sekarang saatnya menikmati summer holiday.

    See you in September, school! ☀️

  • Sekolah di UK ternyata punya banyak kegiatan sepanjang tahun. Hampir di setiap term selalu ada acara yang diselenggarakan. Mulai dari perayaan keagamaan seperti Eid Party dan Nativity saat Christmas, acara musiman seperti Winter Fayre dan Summer Sports Day, hingga peringatan seperti World Book Day dan perayaan 100 tahun kelahiran Sir David Attenborough, seorang ahli biologi ternama. Selain itu, setiap kelas juga biasanya memiliki beberapa field trip selama satu tahun ajaran.

    Yang membuatku senang, orang tua juga diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Mulai dari diundang menonton penampilan anak, menghadiri Winter maupun Summer Fayre, hingga menjadi parent volunteer saat field trip. Selama Arga duduk di Year 1, aku sudah tiga kali menjadi parent volunteer.
    Mendampingi Trip ke Library

    Pengalaman pertamaku menjadi parent volunteer adalah saat mendampingi anak-anak Year 1 berkunjung ke library. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan library sebagai tempat yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.

    Saat itu hanya ada tiga guru yang mendampingi hampir 30 murid. Karena itulah beberapa orang tua diminta ikut membantu. Lokasi library tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.

    Ternyata mengatur hampir 30 anak di jalan umum bukanlah hal yang mudah, apalagi harus beberapa kali menyeberang jalan. Selalu ada saja anak yang usil, berbicara terlalu keras hingga instruksi guru tidak terdengar, atau tidak mau tetap berada di barisan.

    Lucunya, begitu sampai di library mereka langsung bisa duduk dengan rapi dan mendengarkan penjelasan dengan sangat tenang. Setelah itu, mereka diberi kesempatan memilih satu buku untuk dipinjam. Aku membantu anak-anak melakukan peminjaman mandiri menggunakan mesin self-service dengan bantuan staf library. Sebagai penutup, setiap anak mendapatkan stiker sebelum kembali berbaris menuju sekolah.

    Trip ini berlangsung saat Arga baru mulai bersekolah. Dari pengalaman itu aku jadi lebih mengenal teman-teman sekelasnya. Sejak saat itu mereka jadi sering mengajakku bercanda setiap bertemu di kelas, meskipun terkadang aku masih harus menebak-nebak apa yang mereka katakan karena logat bahasa Inggris mereka yang masih khas anak-anak.

    Membacakan Buku saat World Book Day
    Pengalaman berikutnya adalah saat peringatan World Book Day. Karena murid-murid di kelas Arga berasal dari berbagai negara, tema tahun itu adalah mengenalkan berbagai bahasa di dunia. Beberapa orang tua diundang untuk membacakan buku cerita dari negara asal masing-masing.

    Untungnya aku membawa beberapa buku cerita dari Indonesia. Aku memilih buku berjudul “Monster Semut” untuk kubacakan di kelas Arga. Ceritanya kubacakan dalam bahasa Indonesia, kemudian kusampaikan ringkasan singkatnya dalam bahasa Inggris sambil menunjukkan ilustrasi di setiap halaman agar anak-anak tetap bisa mengikuti jalan ceritanya.

    Meski hanya tampil di depan anak-anak berusia lima hingga enam tahun, ternyata rasa gugup dan deg-degan tetap ada. Syukurlah semuanya berjalan lancar. Teman-teman Arga terlihat antusias mendengarkan cerita dan bahkan mampu menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang isi buku. Saat ada pertanyaan dari anak-anak yang membuatku kebingungan, guru Arga juga dengan sigap membantu menjelaskannya.

    Selain aku, ada orang tua lain yang membacakan cerita dalam bahasa Malaysia dan bahasa Kurdistan. Aku bahkan sempat terkejut melihat buku dari Kurdistan yang menggunakan tulisan Arab tanpa harakat.

    Menurutku, kegiatan seperti ini sangat berkesan, bukan hanya untuk orang tua, tetapi juga untuk anak-anak. Mereka bisa mengenal bahasa dan budaya dari berbagai negara sekaligus belajar menghargai perbedaan sejak usia dini.

    Mendampingi Field Trip ke Cathedral

    Pengalaman terakhirku sebagai parent volunteer di Year 1 adalah saat mendampingi field trip ke Cathedral. Meskipun mayoritas murid di kelas Arga beragama Islam, pelajaran Religious Education tetap mengajak mereka mengunjungi Cathedral. Bukan semata-mata sebagai tempat ibadah umat Kristiani, tetapi juga sebagai salah satu bangunan bersejarah di Sheffield.

    Trip ini diikuti oleh 20 anak dengan tiga guru pendamping dan empat orang tua volunteer. Perjalanan menuju Cathedral ditempuh menggunakan tram karena halte berada tidak jauh dari sekolah dan berhenti tepat di depan Cathedral.
    Mengingat pengalaman saat berjalan kaki ke library, awalnya aku membayangkan akan sangat sulit membawa anak-anak naik transportasi umum. Namun ternyata mereka cukup kooperatif dan selalu mendengarkan arahan guru. Walaupun, tentu saja, tetap ada beberapa anak yang harus diawasi lebih ekstra.

    Sesampainya di Cathedral, mereka tampak sangat antusias mendengarkan penjelasan dari guide. Anak-anak juga begitu kritis dan tidak ragu mengajukan banyak pertanyaan.
    Setelah berkeliling, mereka mengikuti kegiatan arts and crafts. Nah, ini tentu menjadi bagian favorit Arga. Mereka membuat souvenir dari tanah liat yang dicetak berbentuk kerang, lalu menghiasnya sesuai kreativitas masing-masing.

    Bagiku sendiri, perjalanan ke Cathedral juga menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Seandainya tidak ikut sebagai parent volunteer, mungkin aku tidak akan pernah memiliki kesempatan menjelajahi seluruh bagian Cathedral sambil mendengarkan penjelasan lengkap dari pemandunya.

    Sayangnya, sekolah di UK sangat menjaga privasi anak-anak sehingga aku tidak bisa mengabadikan momen saat menjadi parent volunteer. Meski begitu, pengalaman ini memberiku kesempatan belajar banyak hal. Aku melihat langsung bagaimana guru menangani karakter setiap anak yang berbeda, sekaligus merasakan sendiri bahwa mendampingi puluhan anak dalam sebuah perjalanan ternyata membutuhkan kesabaran, kerja sama, dan perhatian yang luar biasa.

    Menjadi parent volunteer mungkin terlihat sederhana, tetapi bagiku ini adalah salah satu pengalaman paling berharga selama tinggal di UK. Bukan hanya karena bisa lebih dekat dengan kehidupan sekolah Arga, tetapi juga karena aku mendapat kesempatan belajar dari sistem pendidikan di sini sekaligus menciptakan kenangan yang akan selalu kami ingat.

  • Salah satu hal yang paling aku syukuri sejak tinggal di Sheffield adalah banyaknya aktivitas gratis yang bisa dinikmati anak-anak dan juga keluarga. Hampir setiap bulan ada saja kegiatan yang bisa Arga ikuti. Buatku, kegiatan-kegiatan ini bukan hanya untuk mengisi waktu luang saat akhir pekan atau liburan sekolah. Arga juga punya kesempatan mencoba hal-hal baru, bertemu teman, sekaligus menyalurkan hobinya yang memang suka menggambar dan membuat kerajinan tangan.

    Berikut beberapa tempat yang sering mengadakan aktivitas gratis untuk anak-anak.

    1. Community Centre
    Community centre di sekitar tempat tinggal kami biasanya mengadakan acara pada setiap musim atau event besar seperti Natal, Paskah, dan Idul Fitri. Jadi dalam setahun ada beberapa event yang selalu kami nantikan. Kadang diadakan outdoor di lapangan, kadang juga diadakan indoor di ruang serbaguna, tergantung pada musimnya.

    Kegiatannya beragam, mulai dari bouncy castle, art and craft, face painting, henna, hingga permainan sederhana untuk anak-anak. Yang membuatku kagum, semuanya gratis. Pengunjung juga mendapatkan makanan dan camilan tanpa dipungut biaya. Bahkan saat event Natal semua anak mendapatkan hadiah berupa buku ataupun mainan dari Santa Claus.

    Pizza, fries, buah-buahan dan minuman gratis bisa dinikmati setelah capek berkegiatan

    Arga selalu semangat datang untuk ikut kegiatan art and craft. Sekedar mewarnai worksheet yang disediakan atau membuat prakarya sesuai tema event saat itu. Lalu ditutup dengan makan pizza dan beraneka macam snack.

    2. Library dan Gallery
    Selain meminjam buku, perpustakaan di Sheffield juga sering mengadakan berbagai kegiatan gratis. Ada family workshop yang digelar dengan tema yang berbeda-beda dan bisa diikuti seluruh anggota keluarga. Untuk anak-anak kecil juga tersedia baby and toddler group yang diadakan secara rutin seminggu sekali.

    Menariknya lagi, kegiatan gratis bukan hanya untuk anak-anak. Orang dewasa pun bisa ikut berbagai komunitas, seperti knit club untuk belajar merajut. Ada pula sesi “Drop in and Draw” yang rutin diadakan sebulan sekali di Sheffield Central Library. Di satu ruangan akan disediakan berbagai perlengkapan drawing. Siapapun bebas datang dan berkreasi, hasil karyanya boleh dibawa pulang atau dipajang di tempat yang disediakan.Rasanya menyenangkan bisa meluangkan waktu untuk menggambar sambil bertemu orang-orang baru yang memiliki hobi serupa.

    Perlengkapan yang disediakan untuk sesi “Drop in and Draw” bebas eksplor aneka media menggambar

    Tak hanya perpustakaan, galeri seni juga rutin mengadakan kids atau family activities, sehingga setelah menikmati pameran, anak-anak bisa langsung membuat karya mereka sendiri.

    Saat aku dan Arga mengikuti Family Workshop di salah satu galeri seni

    Informasi mengenai kegiatan-kegiatan ini bisa didapatkan dari poster yang ditempel di dinding maupun brosur yang tersedia di perpustakaan dan galeri, atau melalui website resminya.

    3. Cambridge Street Collective

    Siapa sangka sebuah food hall juga sering menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan keluarga?

    Arga sedang membuat topeng saat event Chinese New Year

    Cambridge Street Collective menjadi salah satu tempat favorit kami saat musim liburan sekolah. Hampir setiap hari biasanya ada kegiatan art and craft dengan tema yang berbeda. Kadang membuat topeng, melukis, menghias kartu ucapan, atau membuat kerajinan sederhana yang bisa dibawa pulang.

    Di luar liburan sekolah pun mereka masih sering mengadakan acara khusus, misalnya untuk Mother’s Day, Father’s Day, atau perayaan musiman lainnya.

    Arga sibuk menghias kartu ucapan untuk Fathers Day

    Aku biasanya mengetahui jadwal kegiatan ini melalui aplikasi Eventbrite. Tinggal melakukan booking secara gratis, lalu datang sesuai jadwal.

    Aktivitas Sederhana yang Membuat Liburan Lebih Berkesan

    Karena Arga memang sangat menyukai kegiatan seni, berbagai acara gratis seperti ini selalu menjadi pilihan kami saat akhir pekan atau liburan sekolah. Selain tidak menguras biaya, setiap kegiatan selalu memberikan pengalaman baru dan hasil karya yang bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

    Ternyata, bersenang-senang bersama anak tidak selalu harus pergi ke tempat wisata yang mahal. Kadang, duduk bersama membuat kerajinan tangan atau  menggambar justru menjadi momen yang paling diingat.

    Kalau sedang atau berencana tinggal di Sheffield, jangan ragu untuk rajin mencari informasi kegiatan komunitas. Siapa tahu, akhir pekanmu berikutnya sudah terisi dengan aktivitas seru yang gratis, edukatif, dan pastinya ramah untuk seluruh anggota keluarga.

  • Halo, kali ini aku bukan mau share cerita atau pengalaman keluarga kami. Tapi untuk menutup bulan yang spesial ini aku mau publish puisi buatanku di sini.

    Menulis puisi adalah hobi lamaku yang udah aku jalani dari kelas 4 SD. Di blog lamaku dulu aku juga suka publish puisi-puisiku yang kebanyakan temanya dunia percintaan ala remaja. Setelah menikah, aku vacum menulis, termasuk menulis puisi. Rasanya seperti kehabisan inspirasi dan kata-kata. Tapi sekarang aku pengen mencoba berpuisi lagi, dengan aku yang lebih dewasa dan tentu dengan tema cerita hidup yang bukan remaja lagi.

    Dan inilah salah satu puisi terbaruku, puisi dari perjalanan seorang ibu ❤️

    Aku dan Juni

    Juni dulu bukanlah bulan istimewa bagiku
    Juni 7 tahun silam dan Juni tahun-tahun sebelumnya
    Saat aku masih tentang diriku sendiri
    Dan tak tau setelah itu Juni akan membuatku berbeda

    Satu hari di bulan Juni 6 tahun silam
    Di satu ruangan saat suara itu untuk pertama kali kudengar
    Suara yang mengubah caraku melihat diri dan dunia
    Suara yang mengajakku pada petualangan hidup yang baru

    Sejak saat itu setiap Juni tak lagi sama
    Juni selalu membawaku pada perjalanan baru yang berbeda-beda
    Suara yang terdengar memang bukan lagi tangisan bayi yang mungil
    Kini suara itu berganti menjadi celoteh dan tanya tanpa henti

    Sekarang setiap Juni adalah bersyukur
    Karna Juni telah membawaku pada petualangan tanpa batas ini
    Bersama seorang dengan hati yang kuharap selalu gembira
    Dan akan selalu bersinar di manapun ia berada

  • Salah satu hal yang paling membuatku kagum tentang tinggal di UK adalah mudahnya akses anak-anak terhadap buku dan ruang bermain yang nyaman. Perpustakaan bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang publik yang ramah keluarga. Karena itulah, salah satu tempat yang langsung kami datangi pada hari-hari pertama tiba di Sheffield adalah Sheffield Central Children’s Library.

    Perpustakaan anak ini berlokasi di area city center, tepatnya di Surrey Street. Bangunannya khas bangunan tua di UK.  Sheffield Central Children’s Library merupakan bagian dari Sheffield Central Library dan berada di lantai paling bawah. Selain library ada juga galeri yang letaknya di lantai atas bangunan ini.

    Suasana di dalam Sheffield Central Children Library

    Kami datang pertama kali untuk mendaftarkan keanggotaan Arga. Saat itu suasana children’s library tidak terlalu ramai, mungkin karena kami datang pada jam sekolah. Ruangannya sangat luas, bersih, rapi, dan tentu saja nyaman. Kami juga langsung disambut hangat oleh seorang petugas yang berjaga di sana. Kami diminta mengisi formulir pendaftaran yang berisi data diri Arga: nama lengkap, tanggal lahir, dan alamat tempat tinggal.

    Sambil menunggu proses pendaftaran selesai, aku berkeliling melihat berbagai fasilitas yang tersedia di perpustakaan ini. Koleksi bukunya sangat lengkap, dari mulai soft book untuk baby, board book untuk anak usia dini, buku untuk anak-anak yang baru mulai bisa membaca yang dibagi sesuai tahapan usia, buku cerita, hingga novel untuk usia remaja. Buku tentang ilmu pengetahuan dan activity book seperti find and search book juga banyak tersedia. Tak hanya buku, Children’s Library ini juga menyediakan berbagai macam mainan. Ada banyak pilihan board game, lego, wooden train toys, dan boneka-boneka, serta puppet. Ada juga meja khusus yang disediakan untuk aktivitas mewarnai.

    Salah satu bagian koleksi buku untuk pembaca usia lebih muda

    Tak lama kemudian, petugas kembali menghampiri kami sambil menyerahkan kartu keanggotaan Arga. Cepat sekali prosesnya, dan yang lebih menyenangkan lagi, semuanya gratis! Ia juga menginformasikan username dan password Arga untuk mengakses komputer yang ada di library. Ia juga menyampaikan bahwa Arga sudah bisa langsung meminjam buku untuk dibawa pulang.

    Jumlah buku yang boleh dipinjam untuk dibawa pulang maksimum adalah 20 buku dalam satu kali peminjaman. Masa pinjamnya adalah selama 3 minggu dan dapat diperpanjang. Karena Arga terbiasa membaca satu hingga dua buku sebelum tidur setiap malam, kunjungan ke children’s library pun menjadi agenda wajib keluarga kami, setidaknya sebulan sekali. Kadang tak hanya untuk menukar buku, children’s library juga menjadi tempat singgah jika Arga mulai capek jalan-jalan di luar atau ketika cuaca di luar sedang terlalu dingin atau panas.

    Sheffield Central Library buka dari hari Senin-Sabtu. Kalau berkunjung di hari Sabtu atau musim liburan sekolah, children’s library sangat ramai. Bisa-bisa sampai nggak kebagian spot untuk duduk dan bermain. Senang sekali budaya berkunjung ke perpustakaan masih sangat hidup di sini.

    Buat kami, children’s library bukan hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga ruang yang menemani tumbuh kembang Arga. Di sini ia bebas memilih buku yang disukainya, bermain, sekaligus belajar mencintai kegiatan membaca sejak dini. Rasanya, inilah salah satu fasilitas publik yang paling akan kami rindukan ketika nanti kembali ke Indonesia. Semoga suatu hari nanti semakin banyak perpustakaan ramah anak di Indonesia yang mudah diakses secara gratis, sehingga semakin banyak pula anak-anak yang bisa tumbuh bersama buku.

  • Mengunjungi kota besar di UK, tak lengkap rasanya bila tak berkunjung ke museumnya. Makanya waktu liburan ke Liverpool, kami menyempatkan waktu untuk berkunjung ke dua museum yang terkenal di sana.

    Museum of Liverpool

    Bangunan Museum of Liverpool yang tampak mencolok dan langsung menarik perhatian

    Bangunan Museum of Liverpool ini langsung mencuri perhatianku karena bentuknya yang unik. Bangunannya berdesain modern dibandingkan dengan  bangunan-bangunan khas UK di sekitarnya. Lokasinya berada di tepi dermaga, dekat Royal Albert Dock.

    Seperti banyak museum UK lainnya, tempat ini juga tidak memungut biaya untuk tiket masuk. Pengunjung juga tidak perlu melakukan booking seperti kebanyakan museum di London.

    Kami datang tepat jam 10 saat museum baru buka, suasana masih sepi. Kami jadi punya lebih banyak waktu untuk eksplor setiap pamerannya.

    Museum ini berisi tentang kisah Liverpool dan penduduknya. Di lantai dasar, pameran menyoroti evolusi perkotaan dan teknologi kota, baik lokal maupun nasional, termasuk Revolusi Industri dan perubahan di Kekaisaran Inggris. Ada pula galeri berbagai macam alat transportasi yang pasti jadi kesukaan anak-anak. Sementara di lantai atas menyoroti identitas Liverpool yang khas dan kuat melalui sejarah sosial kota, mulai dari pemukiman di daerah tersebut sejak zaman Neolitik hingga saat ini, migrasi, dan berbagai komunitas dan budaya yang berkontribusi pada keragaman kota. Ada pula area sejarah musik, yaitu galeri yang mengupas sejarah musik pop lokal, termasuk kisah band legendaris The Beatles (kalo yang ini sih bagian favoritku).

    Sebagian dari koleksi The Beatles di Museum of Liverpool

    Museum ini juga memiliki: Little Liverpool, sebuah galeri untuk anak-anak di bawah usia enam tahun. Untuk galeri ini berbayar dan harus sesuai dengan jadwal waktu bermain. Ukuran galeri tidak terlalu besar tapi permainan yang ditawarkan cukup lengkap. Ada water-play interactive, role-playing, puzzle jigsaw, dan area sensory untuk anak di bawah 2 tahun. Tentu saja yang bikin Arga paling betah lama-lama adalah main air, apalagi ada kapal-kapal kecil yang gemesin.

    Di Little Liverpool anak juga bisa menggambar sepuasnya dengan peralatan yang disediakan

    World Museum Liverpool

    Museum ini adalah museum yang tertua di Liverpool. Berbeda dengan Museum of Liverpool, tipe bangunannya adalah bangunan tua khas Inggris. Tiket masuknya juga gratis, tapi kalau mau nonton film di planetariumnya baru berbayar dan sebaiknya booking dari jauh hari.

    Kalau Museum of Liverpool lebih banyak bercerita tentang sejarah kotanya, World Museum menawarkan pengalaman yang jauh lebih beragam. Mulai dari luar angkasa, dinosaurus, budaya dunia, serangga, hingga akuarium, semuanya bisa dijelajahi dalam satu gedung.

    Lantai 5

    Space and Time: Galeri yang menampilkan benda-benda luar angkasa seperti batuan bulan dan teleskop, serta dilengkapi dengan fasilitas Planetarium interaktif. Karena di dalam planetarium nyaman dan adem, apalagi sambil dengerin cerita tentang planet, Arga malah ketiduran. Berasa didongengin mungkin yaa.

    Lantai 4

    Wild World: Dinosaurs and Natural History. Area ini menampilkan berbagai pameran sejarah alam dan kehidupan di Bumi. Ada juga replika dinosaurus dan area interaktif yang menarik untuk anak. Pengunjung bisa mewarnai worksheet bergambar dinosaurus lalu memunculkannya di layar interaktif. Arga excited banget pas dinonya muncul di layar.

    Arga dan stegosaurus yang dia warnai

    Lantai 3

    World Cultures: Area ini menyimpan artefak dan benda bersejarah yang mencerminkan status Liverpool sebagai pelabuhan Kerajaan Inggris. Di lantai ini juga ada area Ancient Egypt lengkap dengan berbagai koleksi mummy.

    Zona favorit Arga yaitu Mesir Kuno dengan koleksi mummy

    Lantai 2

    The Bug House: Area yang menampilkan berbagai macam koleksi serangga dari seluruh dunia, mulai dari yang berukuran kecil hingga spesimen yang sangat besar.

    Lantai 1

    Aquarium: Area yang menampilkan berbagai spesies ikan dan biota air tawar dari seluruh dunia. Arga paling gemas pas lihat bintang laut pada nempel di kaca akuarium.

    Dari dua museum yang kami kunjungi, masing-masing punya daya tarik yang berbeda. Museum of Liverpool cocok untuk mengenal sejarah dan identitas kota, sementara World Museum menawarkan koleksi yang lebih beragam dan banyak area interaktif yang membuat anak-anak betah berlama-lama.

    Yang paling kami sukai tentu saja karena keduanya bisa dinikmati secara gratis. Rasanya menyenangkan melihat bagaimana museum di UK bukan hanya menjadi tempat menyimpan sejarah, tetapi juga ruang belajar dan bermain yang ramah untuk semua usia. Jadi, kalau suatu saat berkunjung ke Liverpool, sempatkan mampir ke kedua museum ini. Siapa tahu, seperti Arga, anak-anak justru pulang dengan cerita favoritnya sendiri—entah tentang kapal kecil yang mengapung di Little Liverpool, dinosaurus yang “hidup” di layar, atau malah… tertidur nyenyak di planetarium.