Summer mungkin musim yang ditunggu-tunggu banyak orang. Hadirnya matahari lebih sering, bebas pergi tanpa baju berlapis, dan siang hari lebih panjang yang membuat orang tak tergesa menjalani hari. Summer juga mungkin lebih cocok untuk para perantau asal Indonesia dan sekitarnya. Tapi kalo aku tanya Arga apa musim favoritnya di antara 4 musim yang sudah kami jalani, dia menjawab WINTER!
Aku pribadi suka semua musim, KECUALI SUMMER! Wkwkwk. Yaa, karena buat orang yang gampang pusing tiap habis kena terik matahari, summer itu sedikit menyiksa. Apalagi kalo harus menghadapi heatwave yang panasnya sangat menyengat dan udara rasanya engap. Jujur, aku sih lebih mending kedinginan daripada kepanasan. Kepanasan bikin aku cranky. Kalo di Jakarta lagi panas bisa naik TransJakarta sekalian ngadem. Kalo di sini naik bus atau tram yang ada malah berasa masuk oven.
Tapi tentu masih ada yang bisa disyukuri dari musim panas ini: cucian yang lebih cepat kering tanpa perlu menyalakan jemuran electric heat, bisa punya alasan untuk sering-sering jajan es krim, dan cuci piring yang jadi kegiatan favorit karena bisa sambil main air. Biasanya males banget urusan cuci piring karena kedinginan tiap kena air.
21 Juni 2026 jadi hari dengan siang terpanjang di UK. Di Sheffield sunrise-nya jam 4.36 dan sunset pada jam 21.38. Dan tentu saja ini berdampak pada jam shalat kami. Subuh di jam 02.29, Dzuhur di jam 13.09, Ashar jam 17.36, Maghrib jam 21.41, dan Isya jam 23.11. Arga yang biasanya bisa ikut shalat Maghrib/Isya berjamaah, jadi absen dulu selama summer karena sudah lewat dari jam tidurnya.

Nah menariknya saat banyak orang tua lain mengeluhkan drama menyuruh anak tidur karena jawabnya selalu “kan belum malam,” Arga justru sebaliknya. Jam tidur Arga tidak terpengaruh meskipun siang hari yang lebih panjang. Mungkin karena sudah terbiasa konsisten dengan rutinitas yang kami jalanin dari dia kecil. Sekitar jam 19.00, selesai makan malam dan bersih-bersih diri, kami sudah langsung masuk kamar. Rata-rata Arga tidur jam 19.30. Jam 20.00 saja sudah telat katanya, ngga peduli langit masih terang benderang dan ramai suara anak-anak yang masih bermain di luar. Sementara aku berusaha sekuat tenaga menahan ngantuk sampai waktu Maghrib tiba. Syukurlah ada fatwa ulama yang membolehkan Isya dijamak di waktu Maghrib selama summer.
Tapi yang namanya UK, summer aja masih banyak hujannya. Jadi ngga selalu panas dan terik sepanjang musim. Bisa seminggu tiada hari tanpa hujan, lalu seminggu kemudian heatwave, lalu berikutnya hujan kembali. Benar-benar daya tahan tubuh harus kuat untuk menghadapi anehnya cuaca UK.
Menjalani summer pertama di UK membuatku sadar bahwa beradaptasi bukan hanya soal bahasa, budaya, atau makanan. Bahkan hal sesederhana panjangnya siang hari dan waktu shalat pun membutuhkan penyesuaian. Ada rutinitas yang berubah, ada kebiasaan yang harus diatur ulang, dan ada rasa kagum setiap kali menyadari bahwa kami sedang menjalani sesuatu yang dulu hanya dibaca dari cerita orang lain.
Meski masih sering mengeluh saat heatwave datang, aku tahu suatu hari nanti masa-masa ini akan menjadi bagian dari kenangan yang dirindukan. Tentang Arga yang tetap tidur nyenyak saat matahari belum benar-benar tenggelam, tentang menunggu waktu maghrib sambil menahan kantuk, dan tentang belajar menikmati setiap musim dengan segala keunikannya. Karena pada akhirnya, setiap musim di perantauan selalu membawa cerita yang layak disimpan.


























